Thursday, October 23, 2008

My Guitar Chronicles

Gitar pertamaku kuperoleh sekitar seminggu sebelum aku melaksanakan ebtanas SMP tahun 1995. Beda dengan orang tua lain yang memacu anaknya untuk berkutat dengan buku di saat detik-detik akhir menuju ebtanas, Bapak malah membelikan aku gitar yang tentu saja membuat hatiku berbunga-bunga. Ga tahu ini coba-coba atau memang trik yang sudah teruji, yang jelas tindakan Bapak ini memberikan hasil positif berupa NEMku yang tertinggi di sekolahku.

Seingatku gitar itu bermerk Osmond dengan senar nylon. Aku membelinya sore hari di toko olah raga di kota Pekalongan. Aku lupa belinya bareng kakak atau Bapak.

Setelah gitar di tangan, mulailah ia menjadi daftar tetap barang yang harus ada di dekatku. Tuh gitar punya tempat istimewa di pojokan kamar n kadang ikut nemenin kongkow di pinggir jalan raya depan gang rumah.

Dia setidaknya mengalami 2 kali operasi. Yang pertama adalah operasi penggantian senar dari senar nylon ke senar steel. Berikutnya operasi penggantian senar steel ke senar steel untuk gitar elektrik. Ini gara-gara terpengaruh oleh Inuk tetangga depan gang rumah yang sekarang sedang kuliah S2. Katanya, kalau pake senar gitar elektrik suaranya jadi enak n lebih awet. Dan itu memang benar. Seingatku, tuh senar gitar elektrik harganya 30ribu dan aku belinya iuran ma adikku.

Tahun 1998, saatnya aku hijrah ke Yogya untuk kuliah. Gitar ga kubawa karena adikku lebih sering n jago memakainya daripada aku yang dari pertama belajar levelnya masih segitu-gitu aja :D

Perpisahan dengan gitar pertamaku memberikan rindu yang tak berkesudahan. Untuk mengobatinya, terkadang aku main ke kost-kostan teman yang punya gitar. Lumayan lah bisa sedikit genjrang genjreng sambil nyanyi dengan suara yang rada merdu alias banyak falsnya :D

Rindu dengan gitar pertamaku terobati ketika akhirnya adik juga harus hijrah ke Yogya untuk kuliah tahun 2002. Gitar harus dibawa karena kalau ditinggal, ga ada yang memainkannya.

Adik hijrah bukan hanya membawa gitar, tapi juga komputer intel pentium III 733MHz yang pada akhirnya nanti menjadi alasan kenapa akhirnya aku mulai melupakan rasa rindu pada gitar pertamaku. Rasa rindu itu pindah secara berlahan, dari gitar ke komputer dan sebuah mahkluk yang bernama internet.

Tahun 2005 aku mulai mengalami hidup yang sesungguhnya, yaitu bekerja untuk menghidupi diri sendiri. Sudah bisa dipastikan, waktu untuk bermain gitar berkurang dan aku mulai mengganggapnya menjadi bukan barang yang harus ada di sekitarku.

~~~0~~~



Selama di Jakarta, aku belum pernah memegang gitar. Pernah megang sekali, gitarnya Fery yang ga ada senarnya :D Entah sejak kapan, aku mulai bisa hidup tanpa gitar.

Beberapa bulan yang lalu, aku bersama Fery (OB sekolahku) belanja ATK sekolah. Di toko ATK, ada gitar akustik seharga 160rb. Terpikir untuk punya gitar, aku mengajukan proposal ke istri namun istri langsung menolaknya.

Minggu lalu, Alhamdulillah aku dapat rejeki lebih. Ketika kukasihkan ke istri, istri menjawab, "Uangnya dipake Mas aja". Saya sudah memaksa, istri tetap bersikukuh uang untuk saya aja. Betul-betul istri yang mengerti suami :D

Kemarin sore akhirnya uang itu kubelikan gitar akustik merk Yamaha abal-abal :D Tadinya saya tertarik untuk membeli gitar yang harganya 120an ribu, tetapi karena kualitasnya meragukan dan istri memberi pertimbangan beli yang agak bagusan, akhirnya terbeli juga tuh gitar seharga 200an ribu. Ga tahu kemahalan atau ga tuh.

Gitarnya sih lumayan keren n tipis. Cuma ada sedikit masalah, Fretboardnya terlalu sempit sehingga jari saya terkadang menyentuh senar yang tidak seharusnya disentuh. Semoga ini hanya masalah kebiasaan saja.


Ini nih gitar Yamaha abal-abal itu.


Setipis ini nih gitarnya. Itu yang putih flashdisk Kingston DataTraveler 1 GB. Kalau belum pernah lihat flashdisk ini, bayangkan aja tusuk gigi, panjangnya setara kok.


Kecil banget kan fretboardnya?


See U Soon.

10 comments:

faiqfardian

ketoke bukan fretboardnya yg kekecilan mas ... jari ne njenengan sing tambah lemu :P

arzanulhaq

ketokke tebakanmu bener Iq :D

awan_clickerz

wuah..*bahasa opo iki*
fretboard ny bukannya kecil, tapi emang jemari nya jempol semua...hUaaa...
coba di C Minor..test..test..
Ehem....doooO.

Yup !

Anonymous

Agil said:

Mmm...... gitu ya..... baru tahu...

Mada

sip sip ngasah jentik maneh kii

dugem

waduh mas.. beli di mana tuh? jangan bilang di pekalongan! pengen banget aku punya gitar. dari dulu cuma bisa pinjam. yang terakhir malah lebih parah... gitar pinjaman rusak karena jatuh akhirnya keluar duit untuk reparasi gitar orang... hikz...

arzanulhaq

@ awan_clickerz, lha kan dirimu lebih jago gitar Wan, masak ga tahu bahasanya :D

@ Agil, kok baru tahu?

@ Mada, iyo Da :D

@ dugem, beli di Jakarta Selatan deket Giant Ciledug (Kreo). Tuh harga 200 ribu kemahalan sebenarnya. Kalau mo beli pinter-pinter nawar. Enak kok gitarnya, biar kata Yamaha abal-abal.

anita KD

Giant ciledug dimananya nih???aku juga tinggal di ciledug..mohon infonya ya..mo beliin utk pacar.hehehehe

arzanulhaq

@ anita KD, sebrang jalan atau samping kiri pintu masuk Giant Ciledug.

Anonymous

Tuh Gitar YAMAHA Type berapa Gan ???
Coba Agan lihat di dalam tabung tepat di lingkarannya... Type berapa... Pengen beli gitar seperti itu Gan... jawab ya.. :D

Blogger template 'Fundamental' by Ourblogtemplates.com 2008.

Jump to TOP

Blogger templates by OurBlogTemplates.com