Saturday, January 03, 2009

Road to ArchLinux

Saya mulai menggunakan Ubuntu sejak Feisty Fawn sampai yang terakhir, Intrepid Ibex. Ubuntu is good. Repository ada di mana-mana, forumnya siap memberikan semua solusi, dan hampir semua package yang saya perlukan ada di repositorinya. Saya merasa dimanjakan olehnya.

Ubuntu (dan beberapa distro besar lainnya) secara resmi menggeluarkan release 6 bulan sekali. Ini jelas lebih baik dari Windows yang 5 tahun sekali :D Release mereka yang terakhir, Intrepid Ibex begitu memberikan banyak kemajuan, baik yang terlihat mata maupun tidak. Saya puas dengan Intrepid Ibex. Dunia Ubuntu akan maju pesat jika setiap release mereka akan seperti Intrepid Ibex, banyak inovasi.

Sekitar 2 Bulan sebelum release, Ubuntu akan membekukan semua package di repositorynya. Tujuannya, menurut saya, untuk alasan kestabilan. Jadi misalkan pada saat dibekukan ada package conky versi 1.6.1 dan sebulan setelah dibekukan (atau 1 bulan sebelum release) conky mengeluarkan versi baru, Ubuntu tidak akan menyertakannya karena conky yang baru belum dibuktikan kestabilannya oleh developer Ubuntu.

Jadi kita ga bisa mengupgrade conky? Bisa lah. Cara pertama coba cari di getdeb.net atau PPA atau tanya Om Google. Cara kedua, tentu saja, kompile sendiri.

Birokrasi yang menyebabkan tidak up to datenya package ini membuat sakit hati saya. Contoh terbesar kemarin adalah OpenOffice3. Gara-gara OpenOffice3 mundur release melebihi masa pembekuan Intrepid Ibex tapi sebelum Intrepid Ibex release, maka dia ga ada di Intrepid Ibex. Meski pada akhirnya saya bisa menggunakan OpenOffice3 di Intrepid Ibex, tapi terasa tidak Official (the Ubuntu Way) karena package yang saya dapat bukan resmi dari repository Ubuntu.

Yang paling membikin saya sakit hati adalah ketika para pengguna Windows bisa menggunakan software OpenSource yang up2date lebih cepat dari kita, para pengguna Linux yang notabene juga OpenSource. Pidgin keluar baru, pengguna Windows bisa up2date, pengguna Ubuntu nunggu release terbaru atau kompile sendiri. OpenOffice keluar baru, pengguna Windows bisa up2date, pengguna Ubuntu nunggu release terbaru atau kompile sendiri. Hate it !!!!

Software OpenSource itu milik kita (pengguna Linux). Tapi kenapa kita kalah Up2date dengan Windows??? Hate it More !!!!

!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Saat-saat terakhir berIntrepid Ibex, saya tergila-gila dengan OpenBox. Mencermati ScreenShot OpenBox, saya sering banget ngelihat ArchLinux. ArchLinux ??? Distro apa lagi nih??

Saya sebenarnya orang yang statis. Bagi saya Ubuntu sudah cukup. OpenSuse pingin nyoba belum kesampaian dan sekarang dah ga pingin. Slackware pernah berhasil nginstall sekarang ga dipake karena "terasa bukan untuk saya". PCLinuxOS pernah nyoba tapi saya tinggal karena komunitasnya bagi saya terlalu "Anti Ubuntu". gOS, saya suka dia tapi HD laptop ga cukup untuk dual boot. Mandriva, sudah kalah ma Ubuntu :D Fedora, dari awal saya ga suka Red Hat :D CentOS, sukses install dan sekarang space HD dipake Slackware.

Pesimistis saya bilang, "nih ArchLinux pasti sama aja dengan distro-distro lainnya. Ujung-ujungnya Ubuntu tetap jaya". Dan ternyata tidak.

Baca sana, baca sini, kesimpulannya ArchLinux adalah distro yang saya cari. ArchLinux distro yang beranggapan bahwa developer software (bukan developer distro) sudah cukup cerdas dengan software yang mereka ciptakan. Jadi ga perlu lagi developer distro "mempertanyakan kestabilan" software atau pun mempatchnya. Developer software mengeluarkan release terbaru, ArchLinux langsung menggunakan itu tanpa menunggu 6 bulan. Ini yang saya cari, komunitas OpenSource berhak menggunakan software OpenSource se"up2date" mungkin.

Terus apa lagi kehebatan ArchLinux ?
Tunggu minggu depan.
Saya mo rapat dulu.

Update. ScreenShot yang diminta Kang Endar.
ArchLinux with OpenBox, Tint, and Conky.


See U Soon.

I Just Wanna Rock - Joe Satriani

15 comments:

E_N_D_Y

Koq ora ono screenshoot-ne kang.....???

arzanulhaq

ScreenShot ArchLinux setiap user beda-beda Kang,tergantung Desktop Environment yang digunakan.

Aku pake OpenBox, kapan-kapan ku upload lah.

arzanulhaq

Silahkan lihat di http://bbs.archlinux.org/viewforum.php?id=47 untuk ScreenShot ArchLinux.

syariefudin ammar

artikelnya sangat menarik, bikin penasaran mo ikutan install ArchLinux. Tapi mohon pencerahan, bisakah ArchLInux di install pada pentium 4 ke bawah, bukan dual core keatas ??

syariefudin ammar

artikelnya sangat menarik, bikin penasaran mo ikutan install ArchLinux. Tapi mohon pencerahan, bisakah ArchLInux di install pada pentium 4 ke bawah, bukan dual core keatas ??

arzanulhaq

@ syariefudin ammar, tentu bisa Bang. Package Arch Linux dikompile dengan arsitektur i686 atau x86_64. Setahu saya, i686 itu Intel Pentium III ke atas ya? CMIIW.

Kalau ada masalah, coba tanyakan di milis archlinux-id[at]googlegroups[dot]com aja Bang.

wong bumen

makasih infonya oom..saya baru sekitar 2 bulan pake Arch..masih butuh banyak belajar..
Keep It Simple Stupid ^_^

dityamada

saya ingin bermigrasi ke arch linux. rencananya untuk digunakan sebagai operating system utama pada laptop saya. yang saya ingin tanyakan apakah arch linux kompatibel dengan printer canon pixma ip1000 dan pixma ip1700? terima kasih atas tanggapannya.

arzanulhaq

@ dityamada, Arch Linux tidak beda dengan Linux lainnya. Kalau Linux lain kompatibel dengan printer canon pixma ip1000 dan pixma ip1700, tentu di Arch Linux juga sama. Coba cek ke http://wiki.archlinux.org/index.php/CUPS

Jangan lupa Anda juga bisa chat di irc or gabung ke milist archlinux-id[at]googlegroups[dot]com

Sukses ya Bang.

dityamada

oh gitu ya mas, terima kasih atas jawabannya. hampir 3 tahun saya sudah memakai ubuntu sebagai OS utama saya di laptop. namun, belakangan ini saya mulai terganggu dengan sistem "file dependency" nya. saya merasa kerepotan apabila harus melakukan instalasi program dari bentuk source nya karena pasti akan terbentur antara satu file dengan file yang lain. kira-kira arch linux juga mengandalkan file dependensi tidak ya?maaf saya jadi kebanyakan tanya.hehe.

arzanulhaq

"file dependency" itu wajib di dunia Linux. Itu beda utama antara Linux dan Windows.

Di Windows "file dependency" ga perlu karena dia sudah dibawa oleh program installer dan biasanya ditaruh di folder instalasi program. Jadi dimungkinkan, 2 program yg beda akan membutuhkan "file dependency" yg sama, yg terinstall di masing-masing folder instalasi, sehingga "file dependency" ada 2 yg sama.

Linux menghindari ini, makanya ada "file dependency" yg biasanya ditaruh di /usr/lib/ sehingga bisa dipastikan ga akan ada "file dependency" yg sama alias ga ada redundancy.

Jadi kalau alasan Anda pindah ke Arch Linux biar ga ada "file dependency", itu kurang tepat, karena "file dependency" tetap ada di Arch Linux.

dityamada

hmm..kalo begini artinya apa ya mas, saya susah mengartikannya. misal :

saya bermaksud menginstal wvdial di ubuntu rilis terakhir. yang menjadi kerepotan saya adalah saat hanya mengklik wvdial-bla-bla.deb permintaan ditolak karena membutuhkan file libwvstream, libuniconf, libxplc, dll. nah saya itu kerepotan kalo harus mendownload satu per satu. dulu, saya pernah mencoba menginstall melalui source berbentuk tar bal selalu saja masih ada saja file dependensi yang tidak terpenuhi. Saya bingung jadinya, padahal saya pikir kalo melakukan kompilasi secara manual, seluruh file dependensinya sudah ada di dalam tar bal tersebut jadi tinggal kita mengkompilasi. mohon pencerahannya mas.hehe

arzanulhaq

kalau kayak gitu, berarti libwvstream, libuniconf, libxplc adalah "file dependency"nya wvdial.

Untuk bisa menginstall wvdial, kita harus menginstall dulu "file dependency"nya. Jaman saya harus ngambil "file dependency" ke warnet, maka saya mengambilnya di http://packages.ubuntu.com/

Hal ini bisa sangat menyakitkan kalau software A butuh software B. Eh ternyata software B butuh software C. Dan software C butuh software D. Ini namanya "dependency hell" :D

Dependency Hell di Linux sudah bisa dihilangkan berkat software "package manager". Di Ubuntu, kita tinggal "sudo apt-get install nama_aplikasi" dan otomatis semua "file dependency" + aplikasi yg kita mau akan terinstall.

Di Arch kita tinggal "sudo pacman -S nama_aplikasi" untuk melakukan hal yg sama.

Beda utama antara Arch dengan Ubuntu adalah Arch menganut system rolling release sehingga aplikasi di Arch sangat lebih up2date daripada di Ubuntu.

dityamada

nah pernah kejadian pas saya install driver printer pixma di ubuntu. ada beberapa file dependensi printer yang bentrok dengan yang ada di sistem, sebut saja nama filenya 'file A'. jadi saya diharuskan ntuk mencabutnya. saat ingin mencabut, ternyata banyak file-file lain yang tertaut dengan file A, salah satunya adalah file dependensi untuk GDM. Hal yang sama sering terjadi juga saat saya menginstal aplikasi dari source. haduh kok jadi membingungkan ya, apakah di Arch linux juga seperti ini?

arzanulhaq

@ dityamada, sorry baru respon. Sibuk nih :D

Selama saya pake Arch, saya belum pernah mengalami seperti itu karena kita bisa membuat package Arch dengan mudah sekali, ga seperti membuat package deb. Coba aja dulu Bang. Ntar baru kelihatan bedanya.

Blogger template 'Fundamental' by Ourblogtemplates.com 2008.

Jump to TOP

Blogger templates by OurBlogTemplates.com