Saturday, October 30, 2010

Screenshot 10 2010

Monday, December 28, 2009

Screenshot 12 2009

Saturday, March 28, 2009

Screenshot 03 2009


OS : Arch Linux
DE : XFCE
Apps : GPicView, Wbar, Conky.
GTK 2.x Theme : Canus.

Thursday, February 05, 2009

Screenshot 02 2009


OS : Arch Linux
WM : Openbox
Apps : Tint2, Conky, Sonata, Mirage.

Tuesday, January 13, 2009

Definisi Up2Date Ubuntu dan ArchLinux

Masih segar diingatan saya ketika saya baru aja menggunakan Intrepid Ibex, Ngodod mengatakan bahwa ia akan tetap berHardy Heron karena Hardy LTS yang berarti lebih stabil. Saya lebih memilih Intrepid Ibex karena lebih baru yang berarti lebih kaya fitur.

Dalam setahun Ubuntu akan mengeluarkan dua kali stable release di bulan April dan Oktober. Tiap release itu akan didukung update dan securitynya selama 1,5 tahun. Khusus edisi LTS (Long Term Support) akan didukung selama 3 tahun untuk versi desktop dan 5 tahun untuk versi server.

Proses update Ubuntu sangatlah mudah. Pertama kita membandingkan versi (sinkronisasi) aplikasi yang sudah kita install dengan aplikasi yang ada di repository Ubuntu dengan perintah "apt-get update". Jika ada aplikasi direpository yang lebih baru dari versi yang sudah kita install, kita bisa mengupgradenya dengan perintah, "apt-get upgrade".

Ritual "apt-get update" dan "apt-get upgrade" ini selalu saya lakukan setiap hari di waktu pagi agar Ubuntu selalu up2date. Dan ya, saya merasa up2date setelah ritual ini selesai. Dan rasa up2date itu hancur ketika saya mulai mengenal ArchLinux. Dibandingkan dengan ArchLinux, update yang dilakukan Ubuntu adalah update semu belaka.

Kok bisa ???
Ya bisalah.

Saat menggunakan Intrepid Ibex, dia menggunakan package kernel "linux-image-2.6.27-7-generic_2.6.27-7.16_i386.deb". Dari nama package linux-image-2.6.27-7-generic_2.6.27-7.16_i386.deb, setidaknya kita bisa mengetahui bahwa :
Nama package : linux-image
Versi package : 2.6.27
Revisi package : 7
yang maksudnya bahwa package kernel yang digunakan Intrepid Ibex adalah kernel versi 2.6.27 yang sudah dimodifikasi oleh developer Ubuntu sampai versi 7.

3 minggu yang lalu, saat saya menggunakan Intreid Ibex versi kernel sudah berubah dari :
linux-image-2.6.27-7-generic_2.6.27-7.16_i386.deb menjadi
linux-image-2.6.27-9-generic_2.6.27-9.19_i386.deb.

Terlihat kan bahwa sekeras apapun saya berusaha mengupdate Ubuntu, yang akan saya dapatkan adalah update versi developer Ubuntu (update package) bukan update versi developer software. Jika pada saatnya nanti ada kernel versi baru, versi 2.6.28 misalnya, nih kernel ga akan ada di Intreid Ibex dengan ritual update tadi. Kernel 2.6.28 untuk Ubuntu versi selanjutnya dari Intrepid Ibex, bukan Intreid Ibex. Ini yang saya sebut dengan update semu.

Gimana dengan ArchLinux? Apakah dia ga pake update semu?
Ya, ArchLinux juga menggunakan update semu dan yang lebih penting, ArchLinux juga menggunakan update dalam arti update yang sesungguhnya.

Iso installer ArchLinux yang terbaru, dirilis Juli 2008, menggunakan kernel versi 2.6.25. Begitu selesai install dan kita melakukan ritual update, ArchLinux meminta kita untuk mengupdate kernel dari versi 2.6.25 ke 2.6.27. Saat ini kernel linux sudah sampai versi 2.6.28 yang mendukung ext4. ArchLinux sudah punya kernel 2.6.28 di repositorynya meski masih versi [Testing]. Paling telat, bulan ini tuh kernel 2.6.28 akan resmi keluar untuk user ArchLinux. Bagaimana dengan Ubuntu? Tunggu Jaunty di bulan April.

Di dunia ArchLinux, kernel aja bisa diupdate, apalagi hanya sekedar software biasa semacam firefox atau apapun itu. Point saya di sini, kenapa kok distro yang lain ga berpikiran sama dengan ArchLinux? Terlalu sulitkah untuk update versi software bukan versi developer distro?

ArchLinux menyebut ritual updatenya dengan nama "rolling releases". Lha enaknya apa dengan "rolling releases"nya ArchLinux?
Pertama, Anda hanya perlu install ArchLinux sekali seumur hidup. Setelah terinstall, Anda ga perlu nunggu 6 bulan atau 3 tahun untuk merasakan ArchLinux yang terbaru. Asal ritual update Anda lakukan, berarti ArchLinux Anda adalah versi terbaru yang sama dengan versi yang saya gunakan dan tentunya sama dengan ArchLinux yang digunakan user lain dibelahan dunia. Setidaknya kejadian perang antara saya dan Ngodod di atas ga perlu terjadi.

Analoginya seperti ini.
Saya pake Ubuntu.
Ubuntu apa?
Gutsy Gibbon?? Hardy Heron?? Intrepid Ibex??

Saya pake ArchLinux.
ArchLinux apa?
ArchLinux yang sama dengan yang Anda pakai. ArchLinux yang sama dengan ArchLinux yang digunakan user ArchLinux lain di dunia ini maupun planet lainnya :D

Kedua, hemat bandwidth. Sebagai contoh, kernel tuh besarnya 22 Mb. Dengan Ubuntu, 22 Mb hanya akan membawa ritual update ke perubahan versi developer distro. Dengan ArchLinux 22 Mb akan membawa perubahan versi developer software dan distro.

Dan tentu Anda ga perlu download software dengan versi yang sama hanya karena versi distro naik. Saat ini saya masih nyimpen repository local untuk Ubuntu Hardy Heron maupun Intrepid Ibex. Padahal beberapa softare versinya sama. Hanya karena ganti versi distro, maka saya harus download ulang tuh software. ArchLinux??? Ga perlu.

Terus gimana Bang??
Lha ya langsung aja hapus tuh Ubuntu dan ganti dengan ArchLinux :D
Sorry bercanda.

Sekarang terserah Anda, mau pake Ubuntu atau ArchLinux itu ga mengapa asal bukan Windows :D Pake Windows sebenarnya ga pa-pa kok, asal ga mbajak.

Harapan saya sih, semoga Anda demam setelah membaca postingan saya ini dan langsung menggunakan ArchLinux, seperti saat saya pertama kali mengetahui fakta ini.

Kenapa kok ngotot banget nyebarin ArchLinux Bang?
Karena ArchLinux bagus. Saya ngotot karena rasanya senang banget pake ArchLinux. Dan saya ingin orang lain bisa merasakan rasa senang ini.

Berarti sekarang Anda anti Ubuntu Kang?
Tentu tidak, Ubuntu is good. Saya masih menggunakan LiveCD Ubuntu untuk memperkecil partisi NTFS sisa Windows yang mau disumbangkan ke ArchLinux. Saya juga sering ngambil source kode aplikasi yang mau saya kompile sendiri dari packages.ubuntu.com. Cuman ya tadi, fakta harus disebarkan, ilmu dan rasa senang harus dibagi.

See U Soon.

Linkin Park - Qwerty (Studio Version)

Saturday, January 03, 2009

Road to ArchLinux

Saya mulai menggunakan Ubuntu sejak Feisty Fawn sampai yang terakhir, Intrepid Ibex. Ubuntu is good. Repository ada di mana-mana, forumnya siap memberikan semua solusi, dan hampir semua package yang saya perlukan ada di repositorinya. Saya merasa dimanjakan olehnya.

Ubuntu (dan beberapa distro besar lainnya) secara resmi menggeluarkan release 6 bulan sekali. Ini jelas lebih baik dari Windows yang 5 tahun sekali :D Release mereka yang terakhir, Intrepid Ibex begitu memberikan banyak kemajuan, baik yang terlihat mata maupun tidak. Saya puas dengan Intrepid Ibex. Dunia Ubuntu akan maju pesat jika setiap release mereka akan seperti Intrepid Ibex, banyak inovasi.

Sekitar 2 Bulan sebelum release, Ubuntu akan membekukan semua package di repositorynya. Tujuannya, menurut saya, untuk alasan kestabilan. Jadi misalkan pada saat dibekukan ada package conky versi 1.6.1 dan sebulan setelah dibekukan (atau 1 bulan sebelum release) conky mengeluarkan versi baru, Ubuntu tidak akan menyertakannya karena conky yang baru belum dibuktikan kestabilannya oleh developer Ubuntu.

Jadi kita ga bisa mengupgrade conky? Bisa lah. Cara pertama coba cari di getdeb.net atau PPA atau tanya Om Google. Cara kedua, tentu saja, kompile sendiri.

Birokrasi yang menyebabkan tidak up to datenya package ini membuat sakit hati saya. Contoh terbesar kemarin adalah OpenOffice3. Gara-gara OpenOffice3 mundur release melebihi masa pembekuan Intrepid Ibex tapi sebelum Intrepid Ibex release, maka dia ga ada di Intrepid Ibex. Meski pada akhirnya saya bisa menggunakan OpenOffice3 di Intrepid Ibex, tapi terasa tidak Official (the Ubuntu Way) karena package yang saya dapat bukan resmi dari repository Ubuntu.

Yang paling membikin saya sakit hati adalah ketika para pengguna Windows bisa menggunakan software OpenSource yang up2date lebih cepat dari kita, para pengguna Linux yang notabene juga OpenSource. Pidgin keluar baru, pengguna Windows bisa up2date, pengguna Ubuntu nunggu release terbaru atau kompile sendiri. OpenOffice keluar baru, pengguna Windows bisa up2date, pengguna Ubuntu nunggu release terbaru atau kompile sendiri. Hate it !!!!

Software OpenSource itu milik kita (pengguna Linux). Tapi kenapa kita kalah Up2date dengan Windows??? Hate it More !!!!

!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Saat-saat terakhir berIntrepid Ibex, saya tergila-gila dengan OpenBox. Mencermati ScreenShot OpenBox, saya sering banget ngelihat ArchLinux. ArchLinux ??? Distro apa lagi nih??

Saya sebenarnya orang yang statis. Bagi saya Ubuntu sudah cukup. OpenSuse pingin nyoba belum kesampaian dan sekarang dah ga pingin. Slackware pernah berhasil nginstall sekarang ga dipake karena "terasa bukan untuk saya". PCLinuxOS pernah nyoba tapi saya tinggal karena komunitasnya bagi saya terlalu "Anti Ubuntu". gOS, saya suka dia tapi HD laptop ga cukup untuk dual boot. Mandriva, sudah kalah ma Ubuntu :D Fedora, dari awal saya ga suka Red Hat :D CentOS, sukses install dan sekarang space HD dipake Slackware.

Pesimistis saya bilang, "nih ArchLinux pasti sama aja dengan distro-distro lainnya. Ujung-ujungnya Ubuntu tetap jaya". Dan ternyata tidak.

Baca sana, baca sini, kesimpulannya ArchLinux adalah distro yang saya cari. ArchLinux distro yang beranggapan bahwa developer software (bukan developer distro) sudah cukup cerdas dengan software yang mereka ciptakan. Jadi ga perlu lagi developer distro "mempertanyakan kestabilan" software atau pun mempatchnya. Developer software mengeluarkan release terbaru, ArchLinux langsung menggunakan itu tanpa menunggu 6 bulan. Ini yang saya cari, komunitas OpenSource berhak menggunakan software OpenSource se"up2date" mungkin.

Terus apa lagi kehebatan ArchLinux ?
Tunggu minggu depan.
Saya mo rapat dulu.

Update. ScreenShot yang diminta Kang Endar.
ArchLinux with OpenBox, Tint, and Conky.


See U Soon.

I Just Wanna Rock - Joe Satriani

Thursday, October 23, 2008

My Guitar Chronicles

Gitar pertamaku kuperoleh sekitar seminggu sebelum aku melaksanakan ebtanas SMP tahun 1995. Beda dengan orang tua lain yang memacu anaknya untuk berkutat dengan buku di saat detik-detik akhir menuju ebtanas, Bapak malah membelikan aku gitar yang tentu saja membuat hatiku berbunga-bunga. Ga tahu ini coba-coba atau memang trik yang sudah teruji, yang jelas tindakan Bapak ini memberikan hasil positif berupa NEMku yang tertinggi di sekolahku.

Seingatku gitar itu bermerk Osmond dengan senar nylon. Aku membelinya sore hari di toko olah raga di kota Pekalongan. Aku lupa belinya bareng kakak atau Bapak.

Setelah gitar di tangan, mulailah ia menjadi daftar tetap barang yang harus ada di dekatku. Tuh gitar punya tempat istimewa di pojokan kamar n kadang ikut nemenin kongkow di pinggir jalan raya depan gang rumah.

Dia setidaknya mengalami 2 kali operasi. Yang pertama adalah operasi penggantian senar dari senar nylon ke senar steel. Berikutnya operasi penggantian senar steel ke senar steel untuk gitar elektrik. Ini gara-gara terpengaruh oleh Inuk tetangga depan gang rumah yang sekarang sedang kuliah S2. Katanya, kalau pake senar gitar elektrik suaranya jadi enak n lebih awet. Dan itu memang benar. Seingatku, tuh senar gitar elektrik harganya 30ribu dan aku belinya iuran ma adikku.

Tahun 1998, saatnya aku hijrah ke Yogya untuk kuliah. Gitar ga kubawa karena adikku lebih sering n jago memakainya daripada aku yang dari pertama belajar levelnya masih segitu-gitu aja :D

Perpisahan dengan gitar pertamaku memberikan rindu yang tak berkesudahan. Untuk mengobatinya, terkadang aku main ke kost-kostan teman yang punya gitar. Lumayan lah bisa sedikit genjrang genjreng sambil nyanyi dengan suara yang rada merdu alias banyak falsnya :D

Rindu dengan gitar pertamaku terobati ketika akhirnya adik juga harus hijrah ke Yogya untuk kuliah tahun 2002. Gitar harus dibawa karena kalau ditinggal, ga ada yang memainkannya.

Adik hijrah bukan hanya membawa gitar, tapi juga komputer intel pentium III 733MHz yang pada akhirnya nanti menjadi alasan kenapa akhirnya aku mulai melupakan rasa rindu pada gitar pertamaku. Rasa rindu itu pindah secara berlahan, dari gitar ke komputer dan sebuah mahkluk yang bernama internet.

Tahun 2005 aku mulai mengalami hidup yang sesungguhnya, yaitu bekerja untuk menghidupi diri sendiri. Sudah bisa dipastikan, waktu untuk bermain gitar berkurang dan aku mulai mengganggapnya menjadi bukan barang yang harus ada di sekitarku.

~~~0~~~



Selama di Jakarta, aku belum pernah memegang gitar. Pernah megang sekali, gitarnya Fery yang ga ada senarnya :D Entah sejak kapan, aku mulai bisa hidup tanpa gitar.

Beberapa bulan yang lalu, aku bersama Fery (OB sekolahku) belanja ATK sekolah. Di toko ATK, ada gitar akustik seharga 160rb. Terpikir untuk punya gitar, aku mengajukan proposal ke istri namun istri langsung menolaknya.

Minggu lalu, Alhamdulillah aku dapat rejeki lebih. Ketika kukasihkan ke istri, istri menjawab, "Uangnya dipake Mas aja". Saya sudah memaksa, istri tetap bersikukuh uang untuk saya aja. Betul-betul istri yang mengerti suami :D

Kemarin sore akhirnya uang itu kubelikan gitar akustik merk Yamaha abal-abal :D Tadinya saya tertarik untuk membeli gitar yang harganya 120an ribu, tetapi karena kualitasnya meragukan dan istri memberi pertimbangan beli yang agak bagusan, akhirnya terbeli juga tuh gitar seharga 200an ribu. Ga tahu kemahalan atau ga tuh.

Gitarnya sih lumayan keren n tipis. Cuma ada sedikit masalah, Fretboardnya terlalu sempit sehingga jari saya terkadang menyentuh senar yang tidak seharusnya disentuh. Semoga ini hanya masalah kebiasaan saja.


Ini nih gitar Yamaha abal-abal itu.


Setipis ini nih gitarnya. Itu yang putih flashdisk Kingston DataTraveler 1 GB. Kalau belum pernah lihat flashdisk ini, bayangkan aja tusuk gigi, panjangnya setara kok.


Kecil banget kan fretboardnya?


See U Soon.

Tuesday, July 15, 2008

Happy Wedding Day

Hari ini tepat 2 tahun saya menikah. Alhamdulillah, perjalanan di tahun kedua ini semakin indah. Apalagi setelah ada Kafin Hirzal Haq, anak pertama kami.

Mencoba merenungi apa yang sudah saya berikan ke keluarga selama ini, rasanya sangat belum cukup. Saya terkadang masih asyik ngoprek Linux di saat istri main ma Kafin. Kadang masih ngrengek minta laptop padahal dana lebih dibutuhkan untuk tabungan tempat tinggal :D dan lain sebagainya.

Tapi belakangan ini saya dah mulai sadar kok. Saya dah mulai bisa memenangkan Kafin daripada Linux meski rengekan laptop terkadang masih terdengar sayup-sayup :D

Beberapa hari yang lalu, seingat saya, Istri pernah memuji bahwa saya sudah bisa jadi Ayah yang hebat. Ini sudah tentu berkaitan dengan totalitas saya memenangkan Kafin dari segala macam godaan apapun. Sekarang saya paling telat sampai rumah Maghrib, inipun dengan alasan yang jelas. Dulu sering saya sampai rumah jam 21an dengan alasan (agak) banyak kerjaan ditambah (banyak) main OpenArena :D Sekarang Istri sudah bisa main game krece-krece hasil downloadan saya, yang berarti dia bisa sedikit santai di saat saya ngurusin Kafin (sambil baca artikel di laptop (sekolah) yang dibawa pulang).

Dilihat dari sisi Kafin, perjalanan 2 tahun ini bisa dibagi menjadi 3 fase. Fase pertama adalah fase menunggu Kafin selama 8 bulan. Fase kedua adalah fase Kafin ada di perut Bundanya selama 8 bulan (Kafin prematur). Dan yang terakhir fase kehadiran Kafin di dunia selama 8 bulan juga.

Flashback ke dua tahun yang lalu, saya menikah dalam kondisi tidak punya pekerjaan. Sebelum menikah, saya sudah mengajar di SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta selama 1,5 tahun. Bapak mertua mengutarakan bahwa beliau merestui saya menikah dengan putrinya dengan syarat putrinya tidak jauh dari dia.

Tentu ini dilema bagi saya. Menikah berarti meninggalkan pekerjaan karena ga mungkin saya pulang pergi Yogya - Jakarta tiap minggu sekali hanya untuk ketemu sang Istri tercinta. Ini jelas boros biaya dan makan hati plus menghilangkan makna menikah di mana seharusnya si pasangan hidup bersama.

Ga menikah berarti saya gak realistis dan egois.
Kok bisa?
Ya bisa lah.
Saya ga realistis karena saya adalah sarjana pendidikan yang nantinya bakal bekerja sebagai seorang guru. Sudah bukan rahasia umum, bahwa gaji guru itu (sangat) kecil. Saya memilih untuk menikah dan meninggalkan pekerjaan karena saya berfikir jika saya menunda menikah dan tetap mempertahankan pekerjaan, saya ga akan memperoleh apapun.

Seandainya saya bersikukuh untuk menunda menikah dan menabung dulu, tabungan itu juga ga akan bertambah secara signifikan karena gaji guru kecil. Menabung untuk persiapan menikah (rumah dan segala isinya) akan mungkin jika saya seperti tokoh sinetron di negeri ini. Umur 20an, dah jadi dokter plus punya rumah n mobil mewah. Lha saya??? Guru??? Mau nabung untuk beli rumah plus mobil mewah?? Bisa jadi perjaka tua saya :D

Ini semua bukan berarti saya ga nabung sama sekali. Tabungan dari gaji saya cukup untuk membiayai pernikahan dengan segala tetek bengeknya tanpa berusaha merepotkan orang tua. Meski, Alhamdulillah peran dari Kakak dan Adik serta berbagai pihak tidak bisa dipungkiri.

Keadaan ini saya bicarakan ke (calon) Istri dan ia bisa menerima. Istri setuju kami menikah di saat saya belum punya rumah dan mobil mewah daripada pilihan lainnya (saya jadi perjaka tua ^-*). Seeeep dah.

Saya egois kalau memilih tidak menikah karena alasan usia Istri. FYI, usia terbaik bagi wanita untuk melahirkan keturunan yang berkualitas adalah di antara 20 sampai 30 tahun. Seandainya saya ga menikah, berarti saya membuang masa keemasan Istri untuk bisa memberikan buah hati yang berkualitas. Demi Allah, uang bisa dicari. Tapi sebanyak apapun uang, ia tidak bisa membeli waktu yang telah lewat.

Usia Istri dan kualitas buah hati lah yang menjadi alasan saya untuk mengambil keputusan menikah dengan segala resikonya. Buat apa menunda menikah ketika uang yang saya cari belum tentu terkumpul dan usia (calon) Istri jelas akan bertambah?

Kata temen saya yang Ustad sih, Allah akan menjamin rejeki bagi hambanya yang ingin menikah atau menuntut ilmu. Dan saya sudah membuktikan ini.

Saya mengalami kondisi ga punya kerjaan (setelah menikah) selama 2 minggu. Setelah itu, sesuai janjiNya, Allah memberikan saya pekerjaan dari arah yang ga pernah saya sangka. Alhamdulillah.

Ehmmmmm terus apa ya?
Oh ya, jadi bagi Anda yang masih berfikir untuk nabung demi rumah dan mobil mewah daripada usia Istri dan kualitas buah hati, pesan saya cuma satu. "Shame on You" :D

See U soon.

Thursday, June 26, 2008

Legalistas Mp3

Setidaknya ada 2 legalitas pada file mp3. Yang pertama legalitas pada format filenya dan yang kedua pada isi filenya.

Mp3 ditemukan oleh Fraunhofer IIS pada tahun 1990an. Mp3 merupakan file audio yang sangat populer sehingga ketika para penggantinya muncul, dia tetap merupakan file audio yang digunakan secara umum. Mp3 bukan type file yang gratis (bebas). Fraunhofer IIS sebagai pencipta mp3 mensyaratkan agar semua software yang dapat memainkan ataupun menghasilkan mp3 harus membayar "iuran suka rela" ke mereka (mp3licensing.com). Bentuk iuran suka rela ini (suka ga suka harus rela) tentu saja membuat gerah komunitas opensource dan mereka menciptakan Ogg yang tentu saja tanpa iuran suka rela. Sayangnya, sampai detik ini popularitas ogg masih di bawah mp3.

Isi mp3 juga merupakan kondisi syarat legal atau tidaknya mp3. Isi mp3 menjadi legal ketika kita punya sumber asli isi mp3 yang kita dapatkan dengan membeli alias tidak membajak. Analoginya, kalau saya beli kaset Joe Satriani - The Extremist dan saya punya ipod, terus saya nyari mp3 album tersebut di internet n saya masukkan di ipod, maka mp3 itu tergolong legal (dilihat dari isi filenya) karena saya punya sumber isi filenya yang asli (kaset).

Pada saat kumpul-kumpul dengan pengguna Linux, saya sempat tersenyum kecut ketika ada pengguna Linux yang karena sangat tergila-gila dengan opensource sampai-sampai dia mengubah semua file mp3nya menjadi ogg. Maksud saya, lha apa gunanya pake ogg kalau ternyata isi dari filenya merupakan hasil bajakan juga? Meskipun ini lebih baik sih daripada pake mp3 yang isinya juga bajakan :D

Yang ideal sih, tipe filenya legal (ogg) dan isinya juga legal.
Pertanyaannya : Emang ada yang kayak gituan? Tipe filenya legal, isinya legal, gratis pula?
Jawabannya : Ada. Silahkan cek http://jamendo.com/en

See U Soon.

Thursday, May 22, 2008

Yang Aku Benci dari (Ubuntu) Linux

Di dunia ini ga ada satupun yang sempurna, termasuk (Ubuntu) Linux. Beberapa faktor yang ku benci dari (Ubuntu) Linux setelah hampir dua tahun aku menggunakannya adalah :
  1. (Ubuntu) Linux menurunkan prestasi Indonesia.
  2. Kok bisa?
    Ya bisalah. Indonesia kan sekarang (kayaknya) menduduki peringkat ketiga sebagai negara pembajak. Peringkat pertama ga akan tercapai kalau penduduknya pake (Ubuntu) Linux. Nah berarti kalau kita pake (Ubuntu) Linux maka kita ga berpartisipasi dalam meraih peringkat pertama negara pembajak di dunia. D*%n it. Makanya jangan pake (Ubuntu) Linux.
  3. (Ubuntu) Linux tidak mengizinkan saya untuk ke kamar mandi saat saya sedang menggunakannya.
  4. Lha kok bisa?
    Ya bisalah. Dulu waktu saya pake OS (bajakan) lain, sering ketika saya lagi enak-enak kerja, tiba-tiba dia ngambek, n minta reboot. Nah, ketika dia reboot, saya sekalian ke kamar mandi. Lha sekarang pake (Ubuntu) Linux, dia stabil banget n ga pernah minta reboot. Jadilah saya membencinya karena (Ubuntu) Linux ga memberi saya waktu untuk ke kamar mandi ketika dia reboot. S*al tuh (Ubuntu) Linux.
  5. Linux sampai detik ini ga ada virusnya.
  6. Ini bikin kesel. Karena saya kan pekerja keras, jadi seharusnya komputer saya pun bekerja keras. Dulu waktu pake OS lain yang banyak virusnya, di tray pasti ada icon antivirus yang setia membasmi virus yang mencoba mengganggu OS yang saya pakai. Nah dengan adanya antivirus, komputer saya pasti bekerja keras meskipun dalam keadaan idle karena dia kan mencari virus yang ada di dalam komputer. Ini yang saya suka, saya pekerja keras, maka komputernya pun harus bekerja keras. Nah sekarang pakai Linux, ga ada antivirus di tray icon. Komputer saya pun jadi bermalas-malasan sewaktu idle. Yah ..... awas tuh Linux.
  7. Linux ga ada cracknya.
  8. Dulu waktu masih pake OS (bajakan) lain, pas pake software yang ternyata butuh registrasi, crack adalah salah satu jalan keluarnya. Nah pada saat ngecrack ini serasa jadi hacker (meski cracker sebenarnya lebih tepat). Masukin kode untuk dapetin kode lainnya, numpang tindih file exe hasil patch, dan sebagainya. Serasa jadi hacker ???
    Nah sekarang pake Linux, ga ada yang perlu dicrack. Ga ada kesempatan jadi cracker. Yang ada kesempatan jadi hacker beneran. As*m tuh Linux.

Tuesday, May 20, 2008

CD Hardy dari shipit

Kemarin ketika saya sampai rumah sekitar jam 17.30an, Ibu Mertua langsung menyambutku dengan, "Fan, ada kiriman untukmu tuh". Mendengar itu, saya langsung connect maksud "kiriman" adalah CD Ubuntu, Kubuntu, dan Edubuntu yang telah ku pesan via shipit. Setelah bilang terima kasih, menanyakan ongkos kirim berapa (ternyata tiga ribu), dan apakah uang ongkos kirimnya perlu diganti (Ibu bilang silahkan aja ganti, tapi 10 kali lipat ya ^-^), langsung saya menuju ke "kiriman" tersebut yang sudah dibawa Istri ke lantai dua.

Saya memesan ketiga CD tersebut pada 21 April 2008 dan pesanan diapproved esok harinya. Padahal waktu itu Hardy resmi keluar 24 April 2008, tapi seperti biasanya yang pesen via shipit udah dikirimin duluan.

Lha Anda kan sudah pake (download) Hardy, ngapain pesen via shipit segala?
Karena saya pingin punya yang versi LiveCD. Lagian rasanya nggak sreg kalau ga dapet CD dari shipit :D

Kok pesennya masing-masing cuma satu biji?
Karena sampai detik saya menulis ini, Hardy hanya ditawarkan dalam 2 pilihan, 1 CD 32-bit dan 1 CD 64-bit. Dulu jamannya Feisty, kita bisa pilih 5 buah CD skalian. Waktu Gutsy, pilihan berkurang jadi 3 CD. Eh sekarang Hardy, cuma boleh minta satu. Ga papa lah. Namanya juga gratis :D

Fotonya mana?
Ini fotonya.
CD Ubuntu, Kubuntu, dan Edubuntu asli dari shipit.

Begini setelah isinya dibongkar.

Ini nih bongkaran selanjutnya.

Ada hal baru apaan dengan CD tersebut?
Setidaknya ada dua hal baru.
Yang pertama kalau Ubuntu diboot di Windows, wubi akan nongol dan memberikan pilihan yang salah satunya adalah nginstall Ubuntu di Windows layaknya nginstal aplikasi biasa lainnya.
Yang kedua, Edubuntu sekarang berbentuk add on CD bukan LiveCD seperti yang dulu-dulu. Ini berarti untuk menikmatinya, kita harus meng"sudo apt-cdrom add" pada komputer dengan Ubuntu, Kubuntu, Xubuntu maupun variant Hardy lainnya baru kemudian bisa menikmati aplikasi di dalam CD Edubuntu.

"And maybe I'm crazy
but I just can't slow down
And maybe I'm crazy
but at least I'm still around
yeah, yeah, yeah, yeah, yeah, yeah"
The Rasmus - First Day of My Life

See U soon.

Monday, May 19, 2008

Awalnya PCMan File Manager, Berakhir dengan Xubuntu

Waktu browsing saya nemu postingan tentang PCMan File Manager. Sejurus kemudian, saya langsung tergoda untuk mencobanya. Kebetulan PCMan File Manager mempunyai fitur yang hanya dimiliki oleh Konqueror, yaitu tabbed. Karena PCMan File Manager dibuat berdasarkan GTK, maka saya pun langsung menghapus semua aplikasi yang berbasiskan QT (KDE) sekalian nyoba "sudo apt-get install xubuntu-desktop". Lagian tuh Xubuntu kan sudah lengkap saya download, sayang juga kalau ga dipake.

Pas nyoba PCMan File Manager, saya menemukan satu kelemahan. Meski PCMan File Manager sudah disetting untuk view file by type, kalau ditutup n terus dibuka lagi, dia akan otomatis tersortir dengan view file by name. Kekurangan ini cukup membuat saya kesal dan saya langsung menghapus PCMan File Manager.

Sudah kepalang tanggung install Xubuntu, saya putuskan untuk mengexplorenya. Hasilnya, Xubuntu Hardy cukup beda dengan Xubuntu Gutsy. Ia lebih enteng, stabil, dan cantik. Sulit untuk menjelaskannya dengan kata-kata. Paling asyik sih, silahkan aja Anda coba sendiri.

Tentu saja setingan default Xubuntu Hardy tidak membuatku puas. Setelah klik sana klik sini, edit sana edit sini, maka beginilah tampilan Xubuntu Hardyku saat ini.
Xubuntu plus Conky

Thunar, file managernya Xubuntu (XFCE). File manager terbaik setelah Konqueror. Coba bisa tabbed ya?

"My yesterday was blue dear
Still I'm a part of you dear
My lonely nights are through dear
Since you said you were mine
Oh, what a difference a day made
There's a rainbow before me
Skies above can't be stormy since that moment of bliss
That thrilling kiss
It's heaven when you find romance on your menu
What a difference a day made
And the difference is you, is you, is you"

Jamie Cullum - What a Diff'rence a Day Made

See U soon.

Monday, May 12, 2008

Firefox Jangan Ditutup

Apaan tuh Firefox jangan ditutup?
Firefox jangan ditutup adalah tulisan di screensaver pada 2 komputer di ruang guru sekolahku.

Maksudnya apa?
Maksudnya, saya kan hobby ngejunk alias ngedownload file apapun yang tampaknya penting dalam rangka menuh-menuhin harddisk :D Nah, seringnya kan downloadnya via rapidshare.com. Tuh rapidshare.com kalau download maunya pake firefox doang aka ga mau pake download manager. Jadinya saya kalau ngejunk harus pake firefox n demi kelancaran hal tersebut screensaver "Firefox jangan ditutup" tercipta agar proses ngejunk tidak gagal karena faktor human error.

"This is Major Tom to Ground Control
I'm stepping through the door
And I'm floating in a most peculiar way
And the stars look very different today

For here
Am I sitting in a tin can
Far above the world
Planet Earth is blue
And there's nothing I can do

Though I'm past one hundred thousand miles
I'm feeling very still
And I think my spaceship knows which way to go
Tell my wife I love her very much she knows"
Helloween - Space Oddity

See U soon.

Friday, May 02, 2008

Kembali ke Kubuntu

Sebagai pengguna Ubuntu yang baik, tentu saja saya sudah mencoba Ubuntu, Kubuntu, Xubuntu, maupun Edubuntu. Dari semua itu saya lebih memilih untuk menggunakan Kubuntu, Xubuntu, kemudian baru Ubuntu dan Edubuntu.

Kok Ubuntu ada di pilihan terakhir?
Saya ga suka Ubuntu karena saya ga suka gnome. Gnome sebenarnya bagus dan tampilannya orisinal. Tapi saya ga betah pake Nautilus. Nautilus membatasi gerak saya mengeksplorasi file dan sangat ga sebanding dengan Konquerornya KDE.

Kalau Xubuntu gimana tuh?
Saya suka Xubuntu karena ringan dan Thunar lebih bagus dari Nautilus.

Pilih Kubuntu kenapa?
Banyak alasan. Salah satunya lha ya tadi itu, karena Konqueror hebat banget. Tabbed, mouse gesture, meski lebih berat dari Nautilus. Saya suka banget dengan KDE meski tampilannya kurang orisinal n mirip Windows. Tapi ini ga mengapa karena kita bisa mengkonfigurasi KDE semau kita sampai dia ga mirip Windows sama sekali.

Dari awal coba Ubuntu, saya langsung menggunakan Kubuntu. Sampai beberapa bulan lalu saya agak bosan dengan KDE dan mencoba Xubuntu akhirnya keterusan. Ketika saya mencoba Hardy, Ubuntulah yang pertama saya coba. Cuma beberapa hari, dan akhirnya saya kembali ke Kubuntu.

Kenapa?
Karena :
  1. Saya kangen dengan Konqueror. Pertama pake Kubuntu, saya langsung men"sudo dpkg -P dolphin" karena saya kecewa dengan kemampuannya. Agak heran juga, kenapa KDE membuat file manager yang mirip Nautilus ketika dia sudah punya Konqueror yang sangat hebat.
  2. Faktanya saya lebih banyak menggunakan aplikasi berbasis KDE daripada Gnome. Misalnya k3b, kdenlive, smplayer, dan tentu saja Konqueror. Aplikasi berbasis Gnome yang saya pakai cuma GIMP dan firefox. Jadi kalau saya memaksakan diri untuk memakai Ubuntu, yang terjadi malah redundansi aplikasi, banyak aplikasi yang sama fungsinya cuma beda "induk"nya.
  3. Saya kangen ma superkaramba.
  4. Waktu jamannya Gutsy, aplikasi berbasis Gnome (gtk) jika dibuka dengan Kubuntu warnanya ga maching. Sekarang dengan Hardy, hal itu sudah ga terjadi lagi. Ini cuman setingan atau tambahan fitur saya kurang tahu. Yang jelas, sekarang aplikasi berbasis gtk lebih nyaman dilihat dengan Hardy.
Seperti biasa, ini snapshot Hardyku.

Hal baru pada Ubuntu Hardy, kalau ada lebih dari 1 kegiatan copy file, jendela proses akan jadi satu.

Kubuntuku dengan audacious plus compiz-fusion.

Kubuntuku dengan superkaramba. Bagus kan?


See U Soon.

Gavin DeGraw - I Don't Want to Be (Stripped Version).

Tuesday, April 29, 2008

Ubuntu Hardy Heron dan dilema DVD Repositori

Ubuntu 8.04 (Hardy Heron) resmi dirilis 24 April 2008 kemarin. Hardy Heron memberikan sejarah tersendiri bagiku sebagai Ubuntu tercepat yang kucicipi dari tanggal rilisnya. Aku resmi menggunakan Hardy Heron satu hari setelah tanggal rilisnya berkat internet di sekolah.

Jum'at 25 April 2008, di sekolah ada MaBIT (Malam Bina Iman dan Taqwa). MaBIT dimulai hari Jum'at jam 1700 sampai Sabtu esok harinya jam 0800. Moment ini tentu tidak aku sia-siakan. Dari Jum'at pagi jam 9an aku sudah download iso Ubuntu 8.04 alternate dari sini. Download selesai sekitar jam 16 dan aku mulai install Hardy jam 17. Alasan download iso Hardy dari sini karena servernya ada di Indonesia sehingga (harapannya) proses download akan cepat.

Kok pilih yang alternate bukan yang live cd?
Karena yang alternate bisa di "sudo apt-cdrom add" plus yang live cd sudah dalam proses pengiriman (request ubuntu cd via shipitku disetujui dua hari sebelumnya).

Katanya Kubuntu (Xubuntu) mania, kok yang didownload Ubuntu?
Karena Ubuntu adalah dasar dari Kubuntu dan Xubuntu, maka bagiku cukup penting untuk melihat ada perubahan apa saja yang sudah terjadi padanya. Belum tentu kok aku akan selalu menggunakan ubuntu dengan banyaknya godaan dari KDE dan XFCE.

Begitu Ubuntu selesai diinstall, hal pertama yang ku "sudo apt-get install" adalah k3b karena itu aplikasi penting yang kuingat waktu itu. Setelah itu aku menginstal dpkg-dev, xubuntu-desktop dan kubuntu-desktop, sekalian biar puas cicipi semuanya aja :D meski ini sebaiknya tidak dilakukan.

Ngapain rakus banget ngembat KDE, GNOME, dan XFCE?
Karena aku menggunakan komputer yang kuinstall Ubuntu itu sebagai reponya komputer yang kugunakan di rumah. Aku mendownload semua paket yang kuperlukan untuk komputer di rumah via komputer "korban" tersebut. Setelah proses "sudo apt-get install" selesai, semua packages yang ada di "/var/cache/apt/archives" kucopy ke flashdisk dan kutaruh di folder localrepo di komputer rumah lalu ku "sudo dpkg-scanpackages" sehingga aku punya repo untuk Ubuntuku.

Oh ya, hari itu ketika "sudo apt-get install" aku sering mengalami gangguan karena server repository "http://id.archive.ubuntu.com/ubuntu/" memberikan kabar bahwa banyak package yang tidak tersedia di sana. Masalah ini selesai setelah aku menambahkan repository "http://kambing.vlsm.org/ubuntu/" di file /etc/apt/sources.list.

Adanya internet di sekolah memberikan kebahagiaan tersendiri. Aku bisa merasakan enaknya "sudo apt-get install" seperti kebanyakan pengguna Ubuntu di belahan dunia lainnya. Adanya internet juga memberikan dilema tersendiri, haruskah aku ikut-ikutan memesan DVD repo, yang sedikitnya menguras uang 50 ribu rupiah (dan aku punya semua packages Ubuntu meski belum tentu semuanya kupakai) atau aku tetap seperti saat ini?

Ga perlu waktu lama, akhirnya aku kembali ke Kubuntu

See U soon.

Joe Satriani - All Alone.

Friday, February 22, 2008

Sibuk ngapain aja sih sekarang?

Ada yang bertanya, sekarang saya lagi sibuk ngapain aja sih sampai jarang ngeblog?
Ini salah satu jawabannya.

http://narutofob.com/
Di sana ada banyak anime yg bisa kita download n tentu saja gratis. Saya sampai sekarang sudah download 4 seri. Yaitu : Devil May Cry, Sousei no Aquarion, Claymore, dan Hayate no Gotoku. Dari semua anime tersebut, saya paling suka dengan Claymore.

Pertama nonton Claymore, saya merasa ga ada yg spesial dari film ini. Begitu mulai masuk episode flashback, saya mulai menyukai Claymore. Kalau Anda memutuskan untuk mendownload Claymore, saya pastikan Anda akan memahami arti dari yoki, yoma, dan the awakened one :D Kalau Anda sudah nonton Claymore tapi tetap belum paham dengan arti kata-kata tersebut, ada 2 kemungkinan, yang pertama Anda ngantuk atau yang kedua Anda ga bisa bahasa Inggris ^-^ dan ini berarti Anda belum terClaymorekan. Bagi saya, Claymore adalah animasi terbagus yang pernah saya tonton dilihat dari jalan ceritanya. Soal Animasinya, menurut saya cukup bagus juga. Tapi ceritanya.... seeeeep lah.

Saya download Hayate no Gotoku untuk istri saya. Hayate no Gotoku ceritanya tentang keseharian seorang bodyguard yang menjaga seorang putri. Ceritanya lucuuuuuuu banget yang sudah pasti sesuai dengan selera istri saya :D

Devil May Cry saya download karena penasaran dengan ceritanya n Sousei no Aquarion karena ada mechanya (3 pesawat bisa gabung jadi robot, wuiiiiih keren ga tuh ^-^).

Pesan saya cuma satu. Cepetan download Claymore sebelum tuh website mati :D

See U Soon

The Cranberries - Everything I Said

Tuesday, December 04, 2007

Hello World, I'm a Father Now

Kenapa Hello World?
Karena ini adalah postingan pertamaku yang kutulis via komputer yang terhubung ke internet di Khadijah Islamic School. Khadijah Islamic School resmi menggunakan layanan Telkom Speedy sejak 27 Nopember 2007.

Kenapa I'm a Father Now?
Karena anak pertamaku, Kafin Hirzal Haq, lahir pada 29 Nopember 2007.

Apa efek dari Hello World?
Saya jadi lebih sibuk karena harus jadi Admin LAN n internet dadakan :D Semua hal tentang LAN dan internet jadi tanggung jawab saya. Tambah sibuk yang juga menambah ilmu saya pastinya.

Apa efek dari I'm a Father Now?
Banyak sekali. Salah satunya saya harus nyuci popok tiap hari habis subuh :D

Saturday, November 24, 2007

Pembeli itu Raja tapi Penjual itu Dewa

Kubuntu 7.10 Gutsy Gibbon pesananku datang Sabtu 9 November 2007. Aku memesannya dari shipit.kubuntu.org Rabu 10 Oktober 2007 dan pesananku disetujui 15 Oktober 2007.

Malamnya aku langsung mencicipi Live CD Gutsy. Aku ingin sekali mengganti Feisty dengan Gutsy. Namun karena aku belum punya DVD repo Gutsy, niat itu kuurungkan. Esoknya aku ke warnet untuk memesan DVD repo di juragan.kambing.ui.edu.

Di juragan.kambing.ui.edu aku memesan DVD repo Gutsy dan Xubuntu alternate CD. Total uang yang harus kutransfer untuk mendapatkan pesananku adalah Rp. 60.500 dengan perincian DVD repo Gutsy Rp. 50.000 (5 DVD), Xubuntu alternate CD Rp. 5.000 dan ongkos kirim Rp. 5.500.

Aku memilih memesan DVD repo Gutsy dari juragan.kambing.ui.edu karena alasan letak geografis. juragan.kambing.ui.edu terletak di Depok, sekitar 35 km dari rumahku. Jadi kupikir karena letaknya dekat maka DVD repo Gutsy akan semakin cepat kumiliki. Aku tidak memilih untuk datang langsung ke juragan.kambing.ui.edu karena alasan waktu dan kesempatan. Beberapa hari itu aku benar-benar sibuk, sehingga lebih baik kehilangan 5.500 rupiah daripada kehilangan beberapa jam untuk datang langsung ke juragan.kambing.ui.edu.

Senin 12 November 2007 uang untuk menebus pesananku kutransfer. Tidak begitu lama aku langsung mengirim email konfirmasi bahwa uang sudah kutransfer. Hanya dalam hitungan menit, email balasan yang menyatakan bahwa uangku sudah diterima masuk ke inbox gmailku. Hati ini rasanya senang sekali. Perkiraanku, Selasa mereka akan membuat pesananku dan langsung mengirimnya sehingga maksimal hari Jum'at aku sudah menerima DVD repo Gutsy dan Xubuntu alternate CD.

Hari berganti hari. Setiap masuk rumah setelah pulang kerja yang pertama kucari adalah "DVD repo Gutsy dan Xubuntu alternate CD sudah sampai belum ya?". Menunggu adalah hal yang membosankan. Senin 19 November 2007, aku sudah merasa ada yang tidak beres dengan pesananku dan aku mengirim email minta penjelasan atas apa yang terjadi dengan pesananku ke alamat email yang mengkonfirmasi bahwa uang transferku sudah diterima. Aku berharap dalam hitungan menit akan ada email balasan, namun nihil sampai 2 hari lamanya.

Rabu 21 November 2007 aku kembali mengirim email minta penjelasan tentang apa yang terjadi dengan pesananku. Kali ini aku mengirim email ke email resmi juragan.kambing.ui.edu. Beberapa jam kemudian, ada email balasan yang menyatakan permintaan maaf bahwa pesananku baru mau diburning karena ada yang lupa mengubah status pesananku menjadi "sudah dibayar". Yaks .....

Aku kecewa? Tentu saja ya. Bayangkan, aku membayar 12 November, pesananku baru diproses 22 November. dan saat aku menulis postingan ini pun pesanan itu belum juga datang. Selama ini sia-sia perasaan dag dig dugku menunggu DVD repo Gutsy setiap pulang kerja. Bukannya pembeli itu raja? Kok bisa sih ada kesalahan seperti ini? Sudah berapa banyak korbannya selain aku?

Kejadian ini mengingatkanku akan kalimat yang selalu diucapkan adikku, "Pembeli itu Raja tapi Penjual itu Dewa". Gila ga tuh :)

Anyway, entah kenapa aku sudah memperkirakan akan ada kejadian seperti ini. Faktanya, Gutsy sudah kuinstall (meski tanpa DVD repo) dari Jum'at 16 November karena aku ingin secepatnya menyelesaikan pekerjaan sekolah dengan Gutsy. Esoknya aku ke warnet untuk mencari beberapa paket penting untuk kenyamanan kerjaku. Paket itu adalah nvidia-glx (driver nvidia) dan libxine1-ffmpeg (codec mp3 untuk amarok). Semua paket kudownload dari packages.ubuntu.com. nvidia-glx tidak rewel karena dia tidak meminta paket lainnya. Sedangkan libxine1-ffmpeg memerlukan libmad0, libavutil1d, libpostproc1d, dan libavcodec1d. libavcodec1d sendiri memerlukan libgsm1 untuk bisa berjalan. Total paket yang harus kudownload agar amarok bisa memainkan mp3 adalah 2,2 Mb (6 file). Setelah libxine1-ffmpeg kuinstall, ga ada masalah berarti dengan multimedia di kubuntu. Sekarang DVD pun bisa dilibas habis oleh Kaffeine.

Seperti biasa, ini snapshot dari Kubuntuku.
Kubuntu 7.10 lagi nginstall warcraft via wine. Mau main DotA :)

Kubuntu 7.10 dengan Winamp via wine

See U soon.

Monday, October 15, 2007

Pimp My Desktop (My Kubuntu SnapShots)

Saat ini saya menggunakan Kubuntu 7.04 (Feisty Fawn). Kubuntu tersebut akan segera saya upgrade karena Ubuntu 7.10 (Gutsy Gibbon) akan segera dirilis tanggal 18 Oktober 2007. Begitu saya mendapatkan Gutsy Gibbon beserta DVD Repositorynya, sudah pasti dia akan menggantikan Feisty Fawn yang sekarang saya pakai.

Saya menggunakan Feisty Fawn baru 5 bulan dan saya tidak ingin meninggalkannya. Feisty Fawn sangat hebat, karena berkat dia saya belajar untuk menerima Linux seutuhnya bukan hanya sebagai pemain cadangannya Windows. Banyak yang saya pelajari selama 5 bulan ini, salah satunya adalah tentang cara membuat desktop menjadi nyaman dan tidak mirip Windows sama sekali.

Linux adalah dunia penuh pilihan, termasuk dalam urusan menyeting tampilan desktop. Bulan-bulan pertama menggunakan Feisty Fawn, saya menyeting desktop mirip dengan Windows karena saya berfikir bahwa setingan desktop Windows itu adalah setingan desktop terbaik (lihat gambar 1). Ini semua bisa terjadi karena Windows sudah terlalu lama mengotori otak saya.
(gambar 1)

Tidak begitu lama, saya membaca bahwa para pengguna Linux sangat jarang mempunyai tampilan desktop yang sama. Mereka akan menyeting desktopnya sesuai dengan rasa kenyamanan mereka masing-masing. Fakta ini betul-betul menarik bagi saya. Selama ini saya hanya melihat tampilan desktop orang lain via snapshot dan saya sering meragukan tingkat kenyamanan tampilan desktop yang saya lihat tersebut.

Pendapat saya mulai terkikis ketika saya datang ke SFD 2007 di UBL. Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri bahwa benar para pengguna Linux sangat jarang mempunyai tampilan desktop yang sama. Dan yang sangat menarik, mereka bisa nyaman dengan tampilan desktop mereka masing-masing yang sangat jauh dari tampilan desktop Windows (yang dulunya saya pikir memiliki setingan desktop paling nyaman).

Teracuni dengan ide bahwa desktop tidak harus seperti Windows, saya mulai mengubah tampilan desktop saya. Langkah pertama yang saya ambil adalah saya menggunakan Compiz Fusion dan tampilan saya ubah menjadi seperti gambar 2.
(gambar 2)

Oh ya, ngomong-ngomong tentang Compiz Fusion, berikut ini saya kasih lihat kenapa Compiz Fusion itu bukan tandingannya Windows sekelas Vista sekalipun. Linux biasanya mempunyai 4 desktop (bisa lebih, bisa kurang), dengan Compiz Fusion, saya bisa berpindah antar desktop dengan menggunakan fasilitas desktop cube (lihat gambar 3).
(gambar 3)

Pada gambar 2, tampilan desktop saya cukup radikal karena saya tidak punya area untuk menunjukkan task yang sedang aktif. Terus gimana cara saya melihat task yang sedang aktif? Caranya dengan mengarahkan cursor ke pojok kanan atas desktop dan semua task yang aktif akan ditampilkan di desktop (lihat gambar 4). Semua ini sangat keren karena ada efek animasinya. Jangan berfikir bahwa semua proses ini berjalan seperti Anda mereview gambar secara berurutan tanpa ada efek apapun.
(gambar 4)

Cara lain untuk berpindah antar desktop yang berjumlah 4 adalah dengan menggunakan expo (lihar gambar 5). Expo ini biasanya diaktifkan dengan menekan kombinasi antara tombol win+e. Setelah expo terpampang, saya tinggal mengklik desktop mana yang akan saya aktifkan. Seperti biasa, semua ada animasinya. Keren??
(gambar 5)


Cara lain untuk berpindah antar task yang aktif adalah dengan menggunakan fasilitas seperti yang dipunyai Windows Vista (lihat gambar 6). Saya sendiri sangat jarang menggunakan fasilitas ini karena Vista bisa melakukannya sehingga (bagi saya) fasilitas ini menjadi hal yang biasa-biasa saja :)
(gambar 6)

Beberapa waktu yang lalu, saya mencoba menggunakan Wine (aplikasi di Linux yang memungkinkan untuk menjalankan program Windows). Berikut ini tampilan Kubuntu saya yang berhasil menjalankan Winamp terbaru via Wine (lihat gambar 7).
(gambar 7)

See U Soon.
Bondan Prakoso - Psychedelic Sub Rhtym.

Monday, October 08, 2007

2 hari tidak buka puasa di rumah

Sebagai muslim (yang taat), tentu saja saya berusaha untuk menjalankan ibadah puasa. Alhamdulillah, sampai saat saya menulis postingan ini, saya masih diberi kekuatan untuk berpuasa dan tidak bolong satu kali pun.

Salah satu kebahagiaan yang diperoleh muslim yang berpuasa adalah kebahagiaan saat berbuka puasa. Biasanya saya buka puasa di rumah bersama istri, adik, dan ibu mertua. Khusus tanggal 2 dan 3 Oktober kemarin ada yang spesial sehingga saya tidak buka puasa di rumah. Tanggal 2 saya buka puasa di Khadijah Islamic School dan tanggal 3 saya buka puasa di Lemigas.

Saya merupakan tamu pada buka puasa di Lemigas. Saya datang ke sana karena menemani istri yang merupakan salah satu karyawati di sana. Buka puasa di Lemigas ini mengingatkan saya akan postingan blog tentang buka puasa di Lemigas yang saya buat Ramadhan setahun yang lalu. Dipostingan itu saya "berjanji" untuk tidak akan ikut buka puasa di Lemigas lagi. Faktanya, saya tetap aja ikut buka puasa di Lemigas karena kalau ga ikut di rumah ga ada makanan buat buka puasa :)

Beda dengan di Lemigas, pada buka puasa di Khadijah Islamic School (KIS) saya bukanlah tamu melainkan tuan rumah. Posisi ini sudah pasti membuat saya menjadi lebih sibuk. Terlebih lagi, acara buka puasa di KIS ini digabung dengan acara KIS FAIR dan dilanjutkan dengan MABIT plus sahur bersama.

Semua siswi KIS berasal dari keluarga dhuafa. Selain dibekali dengan pendidikan formal, siswi KIS juga dibekali entrepreneur dan life skill. Harapan dari pembekalan ini agar kelak mereka bisa berkarya dan bisa melepas status dhuafanya. KIS FAIR merupakan acara pameran hasil entrepreneur dan life skill siswi KIS. Pada acara KIS FAIR kemarin, siswi KIS memamerkan hasil handycraft dan landscape yang telah mereka buat selama 2 bulan.

MABIT (MAlam Bina Iman dan Taqwa) merupakan acara bulanan KIS. Setahun yang lalu, KIS melewatkan acara MABIT pada Ramadhan sehingga MABIT kemarin adalah MABIT pertama di bulan Ramadhan bagi siswi KIS. Pada MABIT kemarin, KIS menghilangkan acara dialog dengan pelaku entrepreneur karena padatnya jadwal acara buka bersama namun menambah acara sahur bersama. Seperti biasanya, inti acara MABIT adalah sholat malam berjamaah. Pada acara MABIT ini dibagikan juga raport bulanan sehingga saya pun harus berperan sebagai Wakaur Kurikulum.

Berikut beberapa moment yang berhasil saya abadikan.

Siswi KIS menyiapkan stand landscape untuk KIS FAIR.

Agitsna, Evi, dan Winda sedang jaga stand handycraft.
Laku berapa Nak? :)

Banner buka puasa bersama yang sangat sederhana hasil karya siswi KIS.

Siswi KIS yang disusupi 2 orang gurunya :)
Coba tebak, 2 orang gurunya itu yang mana?

Anak-anak TPA yang diajar siswi KIS disusupi 1 siswi KIS (Yuni).
Coba tebak, siswi KISnya yang mana?

Tamu undangan buka puasa bersama.

See U soon.

Blogger template 'Fundamental' by Ourblogtemplates.com 2008.

Jump to TOP

Blogger templates by OurBlogTemplates.com