Showing posts with label Linux. Show all posts
Showing posts with label Linux. Show all posts

Monday, December 28, 2009

Screenshot 12 2009

Saturday, March 28, 2009

Screenshot 03 2009


OS : Arch Linux
DE : XFCE
Apps : GPicView, Wbar, Conky.
GTK 2.x Theme : Canus.

Thursday, February 05, 2009

Screenshot 02 2009


OS : Arch Linux
WM : Openbox
Apps : Tint2, Conky, Sonata, Mirage.

Tuesday, January 13, 2009

Definisi Up2Date Ubuntu dan ArchLinux

Masih segar diingatan saya ketika saya baru aja menggunakan Intrepid Ibex, Ngodod mengatakan bahwa ia akan tetap berHardy Heron karena Hardy LTS yang berarti lebih stabil. Saya lebih memilih Intrepid Ibex karena lebih baru yang berarti lebih kaya fitur.

Dalam setahun Ubuntu akan mengeluarkan dua kali stable release di bulan April dan Oktober. Tiap release itu akan didukung update dan securitynya selama 1,5 tahun. Khusus edisi LTS (Long Term Support) akan didukung selama 3 tahun untuk versi desktop dan 5 tahun untuk versi server.

Proses update Ubuntu sangatlah mudah. Pertama kita membandingkan versi (sinkronisasi) aplikasi yang sudah kita install dengan aplikasi yang ada di repository Ubuntu dengan perintah "apt-get update". Jika ada aplikasi direpository yang lebih baru dari versi yang sudah kita install, kita bisa mengupgradenya dengan perintah, "apt-get upgrade".

Ritual "apt-get update" dan "apt-get upgrade" ini selalu saya lakukan setiap hari di waktu pagi agar Ubuntu selalu up2date. Dan ya, saya merasa up2date setelah ritual ini selesai. Dan rasa up2date itu hancur ketika saya mulai mengenal ArchLinux. Dibandingkan dengan ArchLinux, update yang dilakukan Ubuntu adalah update semu belaka.

Kok bisa ???
Ya bisalah.

Saat menggunakan Intrepid Ibex, dia menggunakan package kernel "linux-image-2.6.27-7-generic_2.6.27-7.16_i386.deb". Dari nama package linux-image-2.6.27-7-generic_2.6.27-7.16_i386.deb, setidaknya kita bisa mengetahui bahwa :
Nama package : linux-image
Versi package : 2.6.27
Revisi package : 7
yang maksudnya bahwa package kernel yang digunakan Intrepid Ibex adalah kernel versi 2.6.27 yang sudah dimodifikasi oleh developer Ubuntu sampai versi 7.

3 minggu yang lalu, saat saya menggunakan Intreid Ibex versi kernel sudah berubah dari :
linux-image-2.6.27-7-generic_2.6.27-7.16_i386.deb menjadi
linux-image-2.6.27-9-generic_2.6.27-9.19_i386.deb.

Terlihat kan bahwa sekeras apapun saya berusaha mengupdate Ubuntu, yang akan saya dapatkan adalah update versi developer Ubuntu (update package) bukan update versi developer software. Jika pada saatnya nanti ada kernel versi baru, versi 2.6.28 misalnya, nih kernel ga akan ada di Intreid Ibex dengan ritual update tadi. Kernel 2.6.28 untuk Ubuntu versi selanjutnya dari Intrepid Ibex, bukan Intreid Ibex. Ini yang saya sebut dengan update semu.

Gimana dengan ArchLinux? Apakah dia ga pake update semu?
Ya, ArchLinux juga menggunakan update semu dan yang lebih penting, ArchLinux juga menggunakan update dalam arti update yang sesungguhnya.

Iso installer ArchLinux yang terbaru, dirilis Juli 2008, menggunakan kernel versi 2.6.25. Begitu selesai install dan kita melakukan ritual update, ArchLinux meminta kita untuk mengupdate kernel dari versi 2.6.25 ke 2.6.27. Saat ini kernel linux sudah sampai versi 2.6.28 yang mendukung ext4. ArchLinux sudah punya kernel 2.6.28 di repositorynya meski masih versi [Testing]. Paling telat, bulan ini tuh kernel 2.6.28 akan resmi keluar untuk user ArchLinux. Bagaimana dengan Ubuntu? Tunggu Jaunty di bulan April.

Di dunia ArchLinux, kernel aja bisa diupdate, apalagi hanya sekedar software biasa semacam firefox atau apapun itu. Point saya di sini, kenapa kok distro yang lain ga berpikiran sama dengan ArchLinux? Terlalu sulitkah untuk update versi software bukan versi developer distro?

ArchLinux menyebut ritual updatenya dengan nama "rolling releases". Lha enaknya apa dengan "rolling releases"nya ArchLinux?
Pertama, Anda hanya perlu install ArchLinux sekali seumur hidup. Setelah terinstall, Anda ga perlu nunggu 6 bulan atau 3 tahun untuk merasakan ArchLinux yang terbaru. Asal ritual update Anda lakukan, berarti ArchLinux Anda adalah versi terbaru yang sama dengan versi yang saya gunakan dan tentunya sama dengan ArchLinux yang digunakan user lain dibelahan dunia. Setidaknya kejadian perang antara saya dan Ngodod di atas ga perlu terjadi.

Analoginya seperti ini.
Saya pake Ubuntu.
Ubuntu apa?
Gutsy Gibbon?? Hardy Heron?? Intrepid Ibex??

Saya pake ArchLinux.
ArchLinux apa?
ArchLinux yang sama dengan yang Anda pakai. ArchLinux yang sama dengan ArchLinux yang digunakan user ArchLinux lain di dunia ini maupun planet lainnya :D

Kedua, hemat bandwidth. Sebagai contoh, kernel tuh besarnya 22 Mb. Dengan Ubuntu, 22 Mb hanya akan membawa ritual update ke perubahan versi developer distro. Dengan ArchLinux 22 Mb akan membawa perubahan versi developer software dan distro.

Dan tentu Anda ga perlu download software dengan versi yang sama hanya karena versi distro naik. Saat ini saya masih nyimpen repository local untuk Ubuntu Hardy Heron maupun Intrepid Ibex. Padahal beberapa softare versinya sama. Hanya karena ganti versi distro, maka saya harus download ulang tuh software. ArchLinux??? Ga perlu.

Terus gimana Bang??
Lha ya langsung aja hapus tuh Ubuntu dan ganti dengan ArchLinux :D
Sorry bercanda.

Sekarang terserah Anda, mau pake Ubuntu atau ArchLinux itu ga mengapa asal bukan Windows :D Pake Windows sebenarnya ga pa-pa kok, asal ga mbajak.

Harapan saya sih, semoga Anda demam setelah membaca postingan saya ini dan langsung menggunakan ArchLinux, seperti saat saya pertama kali mengetahui fakta ini.

Kenapa kok ngotot banget nyebarin ArchLinux Bang?
Karena ArchLinux bagus. Saya ngotot karena rasanya senang banget pake ArchLinux. Dan saya ingin orang lain bisa merasakan rasa senang ini.

Berarti sekarang Anda anti Ubuntu Kang?
Tentu tidak, Ubuntu is good. Saya masih menggunakan LiveCD Ubuntu untuk memperkecil partisi NTFS sisa Windows yang mau disumbangkan ke ArchLinux. Saya juga sering ngambil source kode aplikasi yang mau saya kompile sendiri dari packages.ubuntu.com. Cuman ya tadi, fakta harus disebarkan, ilmu dan rasa senang harus dibagi.

See U Soon.

Linkin Park - Qwerty (Studio Version)

Saturday, January 03, 2009

Road to ArchLinux

Saya mulai menggunakan Ubuntu sejak Feisty Fawn sampai yang terakhir, Intrepid Ibex. Ubuntu is good. Repository ada di mana-mana, forumnya siap memberikan semua solusi, dan hampir semua package yang saya perlukan ada di repositorinya. Saya merasa dimanjakan olehnya.

Ubuntu (dan beberapa distro besar lainnya) secara resmi menggeluarkan release 6 bulan sekali. Ini jelas lebih baik dari Windows yang 5 tahun sekali :D Release mereka yang terakhir, Intrepid Ibex begitu memberikan banyak kemajuan, baik yang terlihat mata maupun tidak. Saya puas dengan Intrepid Ibex. Dunia Ubuntu akan maju pesat jika setiap release mereka akan seperti Intrepid Ibex, banyak inovasi.

Sekitar 2 Bulan sebelum release, Ubuntu akan membekukan semua package di repositorynya. Tujuannya, menurut saya, untuk alasan kestabilan. Jadi misalkan pada saat dibekukan ada package conky versi 1.6.1 dan sebulan setelah dibekukan (atau 1 bulan sebelum release) conky mengeluarkan versi baru, Ubuntu tidak akan menyertakannya karena conky yang baru belum dibuktikan kestabilannya oleh developer Ubuntu.

Jadi kita ga bisa mengupgrade conky? Bisa lah. Cara pertama coba cari di getdeb.net atau PPA atau tanya Om Google. Cara kedua, tentu saja, kompile sendiri.

Birokrasi yang menyebabkan tidak up to datenya package ini membuat sakit hati saya. Contoh terbesar kemarin adalah OpenOffice3. Gara-gara OpenOffice3 mundur release melebihi masa pembekuan Intrepid Ibex tapi sebelum Intrepid Ibex release, maka dia ga ada di Intrepid Ibex. Meski pada akhirnya saya bisa menggunakan OpenOffice3 di Intrepid Ibex, tapi terasa tidak Official (the Ubuntu Way) karena package yang saya dapat bukan resmi dari repository Ubuntu.

Yang paling membikin saya sakit hati adalah ketika para pengguna Windows bisa menggunakan software OpenSource yang up2date lebih cepat dari kita, para pengguna Linux yang notabene juga OpenSource. Pidgin keluar baru, pengguna Windows bisa up2date, pengguna Ubuntu nunggu release terbaru atau kompile sendiri. OpenOffice keluar baru, pengguna Windows bisa up2date, pengguna Ubuntu nunggu release terbaru atau kompile sendiri. Hate it !!!!

Software OpenSource itu milik kita (pengguna Linux). Tapi kenapa kita kalah Up2date dengan Windows??? Hate it More !!!!

!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Saat-saat terakhir berIntrepid Ibex, saya tergila-gila dengan OpenBox. Mencermati ScreenShot OpenBox, saya sering banget ngelihat ArchLinux. ArchLinux ??? Distro apa lagi nih??

Saya sebenarnya orang yang statis. Bagi saya Ubuntu sudah cukup. OpenSuse pingin nyoba belum kesampaian dan sekarang dah ga pingin. Slackware pernah berhasil nginstall sekarang ga dipake karena "terasa bukan untuk saya". PCLinuxOS pernah nyoba tapi saya tinggal karena komunitasnya bagi saya terlalu "Anti Ubuntu". gOS, saya suka dia tapi HD laptop ga cukup untuk dual boot. Mandriva, sudah kalah ma Ubuntu :D Fedora, dari awal saya ga suka Red Hat :D CentOS, sukses install dan sekarang space HD dipake Slackware.

Pesimistis saya bilang, "nih ArchLinux pasti sama aja dengan distro-distro lainnya. Ujung-ujungnya Ubuntu tetap jaya". Dan ternyata tidak.

Baca sana, baca sini, kesimpulannya ArchLinux adalah distro yang saya cari. ArchLinux distro yang beranggapan bahwa developer software (bukan developer distro) sudah cukup cerdas dengan software yang mereka ciptakan. Jadi ga perlu lagi developer distro "mempertanyakan kestabilan" software atau pun mempatchnya. Developer software mengeluarkan release terbaru, ArchLinux langsung menggunakan itu tanpa menunggu 6 bulan. Ini yang saya cari, komunitas OpenSource berhak menggunakan software OpenSource se"up2date" mungkin.

Terus apa lagi kehebatan ArchLinux ?
Tunggu minggu depan.
Saya mo rapat dulu.

Update. ScreenShot yang diminta Kang Endar.
ArchLinux with OpenBox, Tint, and Conky.


See U Soon.

I Just Wanna Rock - Joe Satriani

Thursday, May 22, 2008

Yang Aku Benci dari (Ubuntu) Linux

Di dunia ini ga ada satupun yang sempurna, termasuk (Ubuntu) Linux. Beberapa faktor yang ku benci dari (Ubuntu) Linux setelah hampir dua tahun aku menggunakannya adalah :
  1. (Ubuntu) Linux menurunkan prestasi Indonesia.
  2. Kok bisa?
    Ya bisalah. Indonesia kan sekarang (kayaknya) menduduki peringkat ketiga sebagai negara pembajak. Peringkat pertama ga akan tercapai kalau penduduknya pake (Ubuntu) Linux. Nah berarti kalau kita pake (Ubuntu) Linux maka kita ga berpartisipasi dalam meraih peringkat pertama negara pembajak di dunia. D*%n it. Makanya jangan pake (Ubuntu) Linux.
  3. (Ubuntu) Linux tidak mengizinkan saya untuk ke kamar mandi saat saya sedang menggunakannya.
  4. Lha kok bisa?
    Ya bisalah. Dulu waktu saya pake OS (bajakan) lain, sering ketika saya lagi enak-enak kerja, tiba-tiba dia ngambek, n minta reboot. Nah, ketika dia reboot, saya sekalian ke kamar mandi. Lha sekarang pake (Ubuntu) Linux, dia stabil banget n ga pernah minta reboot. Jadilah saya membencinya karena (Ubuntu) Linux ga memberi saya waktu untuk ke kamar mandi ketika dia reboot. S*al tuh (Ubuntu) Linux.
  5. Linux sampai detik ini ga ada virusnya.
  6. Ini bikin kesel. Karena saya kan pekerja keras, jadi seharusnya komputer saya pun bekerja keras. Dulu waktu pake OS lain yang banyak virusnya, di tray pasti ada icon antivirus yang setia membasmi virus yang mencoba mengganggu OS yang saya pakai. Nah dengan adanya antivirus, komputer saya pasti bekerja keras meskipun dalam keadaan idle karena dia kan mencari virus yang ada di dalam komputer. Ini yang saya suka, saya pekerja keras, maka komputernya pun harus bekerja keras. Nah sekarang pakai Linux, ga ada antivirus di tray icon. Komputer saya pun jadi bermalas-malasan sewaktu idle. Yah ..... awas tuh Linux.
  7. Linux ga ada cracknya.
  8. Dulu waktu masih pake OS (bajakan) lain, pas pake software yang ternyata butuh registrasi, crack adalah salah satu jalan keluarnya. Nah pada saat ngecrack ini serasa jadi hacker (meski cracker sebenarnya lebih tepat). Masukin kode untuk dapetin kode lainnya, numpang tindih file exe hasil patch, dan sebagainya. Serasa jadi hacker ???
    Nah sekarang pake Linux, ga ada yang perlu dicrack. Ga ada kesempatan jadi cracker. Yang ada kesempatan jadi hacker beneran. As*m tuh Linux.

Tuesday, May 20, 2008

CD Hardy dari shipit

Kemarin ketika saya sampai rumah sekitar jam 17.30an, Ibu Mertua langsung menyambutku dengan, "Fan, ada kiriman untukmu tuh". Mendengar itu, saya langsung connect maksud "kiriman" adalah CD Ubuntu, Kubuntu, dan Edubuntu yang telah ku pesan via shipit. Setelah bilang terima kasih, menanyakan ongkos kirim berapa (ternyata tiga ribu), dan apakah uang ongkos kirimnya perlu diganti (Ibu bilang silahkan aja ganti, tapi 10 kali lipat ya ^-^), langsung saya menuju ke "kiriman" tersebut yang sudah dibawa Istri ke lantai dua.

Saya memesan ketiga CD tersebut pada 21 April 2008 dan pesanan diapproved esok harinya. Padahal waktu itu Hardy resmi keluar 24 April 2008, tapi seperti biasanya yang pesen via shipit udah dikirimin duluan.

Lha Anda kan sudah pake (download) Hardy, ngapain pesen via shipit segala?
Karena saya pingin punya yang versi LiveCD. Lagian rasanya nggak sreg kalau ga dapet CD dari shipit :D

Kok pesennya masing-masing cuma satu biji?
Karena sampai detik saya menulis ini, Hardy hanya ditawarkan dalam 2 pilihan, 1 CD 32-bit dan 1 CD 64-bit. Dulu jamannya Feisty, kita bisa pilih 5 buah CD skalian. Waktu Gutsy, pilihan berkurang jadi 3 CD. Eh sekarang Hardy, cuma boleh minta satu. Ga papa lah. Namanya juga gratis :D

Fotonya mana?
Ini fotonya.
CD Ubuntu, Kubuntu, dan Edubuntu asli dari shipit.

Begini setelah isinya dibongkar.

Ini nih bongkaran selanjutnya.

Ada hal baru apaan dengan CD tersebut?
Setidaknya ada dua hal baru.
Yang pertama kalau Ubuntu diboot di Windows, wubi akan nongol dan memberikan pilihan yang salah satunya adalah nginstall Ubuntu di Windows layaknya nginstal aplikasi biasa lainnya.
Yang kedua, Edubuntu sekarang berbentuk add on CD bukan LiveCD seperti yang dulu-dulu. Ini berarti untuk menikmatinya, kita harus meng"sudo apt-cdrom add" pada komputer dengan Ubuntu, Kubuntu, Xubuntu maupun variant Hardy lainnya baru kemudian bisa menikmati aplikasi di dalam CD Edubuntu.

"And maybe I'm crazy
but I just can't slow down
And maybe I'm crazy
but at least I'm still around
yeah, yeah, yeah, yeah, yeah, yeah"
The Rasmus - First Day of My Life

See U soon.

Friday, May 02, 2008

Kembali ke Kubuntu

Sebagai pengguna Ubuntu yang baik, tentu saja saya sudah mencoba Ubuntu, Kubuntu, Xubuntu, maupun Edubuntu. Dari semua itu saya lebih memilih untuk menggunakan Kubuntu, Xubuntu, kemudian baru Ubuntu dan Edubuntu.

Kok Ubuntu ada di pilihan terakhir?
Saya ga suka Ubuntu karena saya ga suka gnome. Gnome sebenarnya bagus dan tampilannya orisinal. Tapi saya ga betah pake Nautilus. Nautilus membatasi gerak saya mengeksplorasi file dan sangat ga sebanding dengan Konquerornya KDE.

Kalau Xubuntu gimana tuh?
Saya suka Xubuntu karena ringan dan Thunar lebih bagus dari Nautilus.

Pilih Kubuntu kenapa?
Banyak alasan. Salah satunya lha ya tadi itu, karena Konqueror hebat banget. Tabbed, mouse gesture, meski lebih berat dari Nautilus. Saya suka banget dengan KDE meski tampilannya kurang orisinal n mirip Windows. Tapi ini ga mengapa karena kita bisa mengkonfigurasi KDE semau kita sampai dia ga mirip Windows sama sekali.

Dari awal coba Ubuntu, saya langsung menggunakan Kubuntu. Sampai beberapa bulan lalu saya agak bosan dengan KDE dan mencoba Xubuntu akhirnya keterusan. Ketika saya mencoba Hardy, Ubuntulah yang pertama saya coba. Cuma beberapa hari, dan akhirnya saya kembali ke Kubuntu.

Kenapa?
Karena :
  1. Saya kangen dengan Konqueror. Pertama pake Kubuntu, saya langsung men"sudo dpkg -P dolphin" karena saya kecewa dengan kemampuannya. Agak heran juga, kenapa KDE membuat file manager yang mirip Nautilus ketika dia sudah punya Konqueror yang sangat hebat.
  2. Faktanya saya lebih banyak menggunakan aplikasi berbasis KDE daripada Gnome. Misalnya k3b, kdenlive, smplayer, dan tentu saja Konqueror. Aplikasi berbasis Gnome yang saya pakai cuma GIMP dan firefox. Jadi kalau saya memaksakan diri untuk memakai Ubuntu, yang terjadi malah redundansi aplikasi, banyak aplikasi yang sama fungsinya cuma beda "induk"nya.
  3. Saya kangen ma superkaramba.
  4. Waktu jamannya Gutsy, aplikasi berbasis Gnome (gtk) jika dibuka dengan Kubuntu warnanya ga maching. Sekarang dengan Hardy, hal itu sudah ga terjadi lagi. Ini cuman setingan atau tambahan fitur saya kurang tahu. Yang jelas, sekarang aplikasi berbasis gtk lebih nyaman dilihat dengan Hardy.
Seperti biasa, ini snapshot Hardyku.

Hal baru pada Ubuntu Hardy, kalau ada lebih dari 1 kegiatan copy file, jendela proses akan jadi satu.

Kubuntuku dengan audacious plus compiz-fusion.

Kubuntuku dengan superkaramba. Bagus kan?


See U Soon.

Gavin DeGraw - I Don't Want to Be (Stripped Version).

Tuesday, April 29, 2008

Ubuntu Hardy Heron dan dilema DVD Repositori

Ubuntu 8.04 (Hardy Heron) resmi dirilis 24 April 2008 kemarin. Hardy Heron memberikan sejarah tersendiri bagiku sebagai Ubuntu tercepat yang kucicipi dari tanggal rilisnya. Aku resmi menggunakan Hardy Heron satu hari setelah tanggal rilisnya berkat internet di sekolah.

Jum'at 25 April 2008, di sekolah ada MaBIT (Malam Bina Iman dan Taqwa). MaBIT dimulai hari Jum'at jam 1700 sampai Sabtu esok harinya jam 0800. Moment ini tentu tidak aku sia-siakan. Dari Jum'at pagi jam 9an aku sudah download iso Ubuntu 8.04 alternate dari sini. Download selesai sekitar jam 16 dan aku mulai install Hardy jam 17. Alasan download iso Hardy dari sini karena servernya ada di Indonesia sehingga (harapannya) proses download akan cepat.

Kok pilih yang alternate bukan yang live cd?
Karena yang alternate bisa di "sudo apt-cdrom add" plus yang live cd sudah dalam proses pengiriman (request ubuntu cd via shipitku disetujui dua hari sebelumnya).

Katanya Kubuntu (Xubuntu) mania, kok yang didownload Ubuntu?
Karena Ubuntu adalah dasar dari Kubuntu dan Xubuntu, maka bagiku cukup penting untuk melihat ada perubahan apa saja yang sudah terjadi padanya. Belum tentu kok aku akan selalu menggunakan ubuntu dengan banyaknya godaan dari KDE dan XFCE.

Begitu Ubuntu selesai diinstall, hal pertama yang ku "sudo apt-get install" adalah k3b karena itu aplikasi penting yang kuingat waktu itu. Setelah itu aku menginstal dpkg-dev, xubuntu-desktop dan kubuntu-desktop, sekalian biar puas cicipi semuanya aja :D meski ini sebaiknya tidak dilakukan.

Ngapain rakus banget ngembat KDE, GNOME, dan XFCE?
Karena aku menggunakan komputer yang kuinstall Ubuntu itu sebagai reponya komputer yang kugunakan di rumah. Aku mendownload semua paket yang kuperlukan untuk komputer di rumah via komputer "korban" tersebut. Setelah proses "sudo apt-get install" selesai, semua packages yang ada di "/var/cache/apt/archives" kucopy ke flashdisk dan kutaruh di folder localrepo di komputer rumah lalu ku "sudo dpkg-scanpackages" sehingga aku punya repo untuk Ubuntuku.

Oh ya, hari itu ketika "sudo apt-get install" aku sering mengalami gangguan karena server repository "http://id.archive.ubuntu.com/ubuntu/" memberikan kabar bahwa banyak package yang tidak tersedia di sana. Masalah ini selesai setelah aku menambahkan repository "http://kambing.vlsm.org/ubuntu/" di file /etc/apt/sources.list.

Adanya internet di sekolah memberikan kebahagiaan tersendiri. Aku bisa merasakan enaknya "sudo apt-get install" seperti kebanyakan pengguna Ubuntu di belahan dunia lainnya. Adanya internet juga memberikan dilema tersendiri, haruskah aku ikut-ikutan memesan DVD repo, yang sedikitnya menguras uang 50 ribu rupiah (dan aku punya semua packages Ubuntu meski belum tentu semuanya kupakai) atau aku tetap seperti saat ini?

Ga perlu waktu lama, akhirnya aku kembali ke Kubuntu

See U soon.

Joe Satriani - All Alone.

Saturday, November 24, 2007

Pembeli itu Raja tapi Penjual itu Dewa

Kubuntu 7.10 Gutsy Gibbon pesananku datang Sabtu 9 November 2007. Aku memesannya dari shipit.kubuntu.org Rabu 10 Oktober 2007 dan pesananku disetujui 15 Oktober 2007.

Malamnya aku langsung mencicipi Live CD Gutsy. Aku ingin sekali mengganti Feisty dengan Gutsy. Namun karena aku belum punya DVD repo Gutsy, niat itu kuurungkan. Esoknya aku ke warnet untuk memesan DVD repo di juragan.kambing.ui.edu.

Di juragan.kambing.ui.edu aku memesan DVD repo Gutsy dan Xubuntu alternate CD. Total uang yang harus kutransfer untuk mendapatkan pesananku adalah Rp. 60.500 dengan perincian DVD repo Gutsy Rp. 50.000 (5 DVD), Xubuntu alternate CD Rp. 5.000 dan ongkos kirim Rp. 5.500.

Aku memilih memesan DVD repo Gutsy dari juragan.kambing.ui.edu karena alasan letak geografis. juragan.kambing.ui.edu terletak di Depok, sekitar 35 km dari rumahku. Jadi kupikir karena letaknya dekat maka DVD repo Gutsy akan semakin cepat kumiliki. Aku tidak memilih untuk datang langsung ke juragan.kambing.ui.edu karena alasan waktu dan kesempatan. Beberapa hari itu aku benar-benar sibuk, sehingga lebih baik kehilangan 5.500 rupiah daripada kehilangan beberapa jam untuk datang langsung ke juragan.kambing.ui.edu.

Senin 12 November 2007 uang untuk menebus pesananku kutransfer. Tidak begitu lama aku langsung mengirim email konfirmasi bahwa uang sudah kutransfer. Hanya dalam hitungan menit, email balasan yang menyatakan bahwa uangku sudah diterima masuk ke inbox gmailku. Hati ini rasanya senang sekali. Perkiraanku, Selasa mereka akan membuat pesananku dan langsung mengirimnya sehingga maksimal hari Jum'at aku sudah menerima DVD repo Gutsy dan Xubuntu alternate CD.

Hari berganti hari. Setiap masuk rumah setelah pulang kerja yang pertama kucari adalah "DVD repo Gutsy dan Xubuntu alternate CD sudah sampai belum ya?". Menunggu adalah hal yang membosankan. Senin 19 November 2007, aku sudah merasa ada yang tidak beres dengan pesananku dan aku mengirim email minta penjelasan atas apa yang terjadi dengan pesananku ke alamat email yang mengkonfirmasi bahwa uang transferku sudah diterima. Aku berharap dalam hitungan menit akan ada email balasan, namun nihil sampai 2 hari lamanya.

Rabu 21 November 2007 aku kembali mengirim email minta penjelasan tentang apa yang terjadi dengan pesananku. Kali ini aku mengirim email ke email resmi juragan.kambing.ui.edu. Beberapa jam kemudian, ada email balasan yang menyatakan permintaan maaf bahwa pesananku baru mau diburning karena ada yang lupa mengubah status pesananku menjadi "sudah dibayar". Yaks .....

Aku kecewa? Tentu saja ya. Bayangkan, aku membayar 12 November, pesananku baru diproses 22 November. dan saat aku menulis postingan ini pun pesanan itu belum juga datang. Selama ini sia-sia perasaan dag dig dugku menunggu DVD repo Gutsy setiap pulang kerja. Bukannya pembeli itu raja? Kok bisa sih ada kesalahan seperti ini? Sudah berapa banyak korbannya selain aku?

Kejadian ini mengingatkanku akan kalimat yang selalu diucapkan adikku, "Pembeli itu Raja tapi Penjual itu Dewa". Gila ga tuh :)

Anyway, entah kenapa aku sudah memperkirakan akan ada kejadian seperti ini. Faktanya, Gutsy sudah kuinstall (meski tanpa DVD repo) dari Jum'at 16 November karena aku ingin secepatnya menyelesaikan pekerjaan sekolah dengan Gutsy. Esoknya aku ke warnet untuk mencari beberapa paket penting untuk kenyamanan kerjaku. Paket itu adalah nvidia-glx (driver nvidia) dan libxine1-ffmpeg (codec mp3 untuk amarok). Semua paket kudownload dari packages.ubuntu.com. nvidia-glx tidak rewel karena dia tidak meminta paket lainnya. Sedangkan libxine1-ffmpeg memerlukan libmad0, libavutil1d, libpostproc1d, dan libavcodec1d. libavcodec1d sendiri memerlukan libgsm1 untuk bisa berjalan. Total paket yang harus kudownload agar amarok bisa memainkan mp3 adalah 2,2 Mb (6 file). Setelah libxine1-ffmpeg kuinstall, ga ada masalah berarti dengan multimedia di kubuntu. Sekarang DVD pun bisa dilibas habis oleh Kaffeine.

Seperti biasa, ini snapshot dari Kubuntuku.
Kubuntu 7.10 lagi nginstall warcraft via wine. Mau main DotA :)

Kubuntu 7.10 dengan Winamp via wine

See U soon.

Monday, October 15, 2007

Pimp My Desktop (My Kubuntu SnapShots)

Saat ini saya menggunakan Kubuntu 7.04 (Feisty Fawn). Kubuntu tersebut akan segera saya upgrade karena Ubuntu 7.10 (Gutsy Gibbon) akan segera dirilis tanggal 18 Oktober 2007. Begitu saya mendapatkan Gutsy Gibbon beserta DVD Repositorynya, sudah pasti dia akan menggantikan Feisty Fawn yang sekarang saya pakai.

Saya menggunakan Feisty Fawn baru 5 bulan dan saya tidak ingin meninggalkannya. Feisty Fawn sangat hebat, karena berkat dia saya belajar untuk menerima Linux seutuhnya bukan hanya sebagai pemain cadangannya Windows. Banyak yang saya pelajari selama 5 bulan ini, salah satunya adalah tentang cara membuat desktop menjadi nyaman dan tidak mirip Windows sama sekali.

Linux adalah dunia penuh pilihan, termasuk dalam urusan menyeting tampilan desktop. Bulan-bulan pertama menggunakan Feisty Fawn, saya menyeting desktop mirip dengan Windows karena saya berfikir bahwa setingan desktop Windows itu adalah setingan desktop terbaik (lihat gambar 1). Ini semua bisa terjadi karena Windows sudah terlalu lama mengotori otak saya.
(gambar 1)

Tidak begitu lama, saya membaca bahwa para pengguna Linux sangat jarang mempunyai tampilan desktop yang sama. Mereka akan menyeting desktopnya sesuai dengan rasa kenyamanan mereka masing-masing. Fakta ini betul-betul menarik bagi saya. Selama ini saya hanya melihat tampilan desktop orang lain via snapshot dan saya sering meragukan tingkat kenyamanan tampilan desktop yang saya lihat tersebut.

Pendapat saya mulai terkikis ketika saya datang ke SFD 2007 di UBL. Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri bahwa benar para pengguna Linux sangat jarang mempunyai tampilan desktop yang sama. Dan yang sangat menarik, mereka bisa nyaman dengan tampilan desktop mereka masing-masing yang sangat jauh dari tampilan desktop Windows (yang dulunya saya pikir memiliki setingan desktop paling nyaman).

Teracuni dengan ide bahwa desktop tidak harus seperti Windows, saya mulai mengubah tampilan desktop saya. Langkah pertama yang saya ambil adalah saya menggunakan Compiz Fusion dan tampilan saya ubah menjadi seperti gambar 2.
(gambar 2)

Oh ya, ngomong-ngomong tentang Compiz Fusion, berikut ini saya kasih lihat kenapa Compiz Fusion itu bukan tandingannya Windows sekelas Vista sekalipun. Linux biasanya mempunyai 4 desktop (bisa lebih, bisa kurang), dengan Compiz Fusion, saya bisa berpindah antar desktop dengan menggunakan fasilitas desktop cube (lihat gambar 3).
(gambar 3)

Pada gambar 2, tampilan desktop saya cukup radikal karena saya tidak punya area untuk menunjukkan task yang sedang aktif. Terus gimana cara saya melihat task yang sedang aktif? Caranya dengan mengarahkan cursor ke pojok kanan atas desktop dan semua task yang aktif akan ditampilkan di desktop (lihat gambar 4). Semua ini sangat keren karena ada efek animasinya. Jangan berfikir bahwa semua proses ini berjalan seperti Anda mereview gambar secara berurutan tanpa ada efek apapun.
(gambar 4)

Cara lain untuk berpindah antar desktop yang berjumlah 4 adalah dengan menggunakan expo (lihar gambar 5). Expo ini biasanya diaktifkan dengan menekan kombinasi antara tombol win+e. Setelah expo terpampang, saya tinggal mengklik desktop mana yang akan saya aktifkan. Seperti biasa, semua ada animasinya. Keren??
(gambar 5)


Cara lain untuk berpindah antar task yang aktif adalah dengan menggunakan fasilitas seperti yang dipunyai Windows Vista (lihat gambar 6). Saya sendiri sangat jarang menggunakan fasilitas ini karena Vista bisa melakukannya sehingga (bagi saya) fasilitas ini menjadi hal yang biasa-biasa saja :)
(gambar 6)

Beberapa waktu yang lalu, saya mencoba menggunakan Wine (aplikasi di Linux yang memungkinkan untuk menjalankan program Windows). Berikut ini tampilan Kubuntu saya yang berhasil menjalankan Winamp terbaru via Wine (lihat gambar 7).
(gambar 7)

See U Soon.
Bondan Prakoso - Psychedelic Sub Rhtym.

Sunday, September 16, 2007

Software Freedom Day 2007 di Universitas Budi Luhur

Sabtu tanggal 15 September 2007 (kemarin), komunitas Free and Open Source Software (FOSS) di seluruh dunia merayakan Software Freedom Day (SFD). SFD merupakan "Hari Raya"nya komunitas FOSS. Berbeda dengan Hari Raya Idul Fitri yang diisi dengan acara saling memaafkan, "Hari Raya" SFD diisi dengan edukasi tentang pentingnya FOSS.

Sebagai seorang pengguna FOSS, yaitu Kubuntu 7.04, bisa dipastikan bahwa saya juga merayakan "Hari Raya" SFD. Saya merayakan SFD yang diselenggarakan oleh KSL BL di Universitas Budi Luhur. Dari berbagai kegiatan perayaan SFD, saya mengikuti seminar gratis :) tentang FOSS. Sebagian besar peserta seminar adalah mahasiswa UBL. Di seminar itu, saya yakin bahwa saya adalah satu-satunya guru (kimia) yang ikut.

Berikut oleh-oleh dari SFD 2007 di UBL.
Pak Harry Sufehmi (paling kiri), dari Ubuntu Indonesia, sedang memberikan materi tentang FOSS

Liputan lebih lanjut bisa dilihat di sini.

See U Soon.

Sunday, August 26, 2007

2 majalah yang saya tunggu

Ada 2 majalah yang setiap bulannya saya tunggu terbitnya. Yang pertama InfoLinux dan yang kedua fullcircle.

Meski sama-sama membahas Linux, perbedaan terbesar antara InfoLinux dan fullcircle adalah bentuk majalahnya. InfoLinux punya bentuk fisik sehingga Anda harus menganti ongkos cetaknya sedangkan fullcircle merupakan majalah digital yang cuma perlu Anda download. Untuk mendapatkan InfoLinux Anda dapat membelinya di toko majalah di sekitar Anda dan untuk mendapatkan fullcircle Anda dapat mendownloadnya dari websitenya. Saran saya, untuk mendownload fullcircle sebaiknya Anda mendownload dari
http://wiki.ubuntu-id.org/ArsipUbuntuMagazine karena proses download akan lebih cepat.

See U Soon.

Friday, August 10, 2007

PCLinuxOS 2007

Salah satu bonus Majalah InfoLinux bulan ini adalah PCLinuxOS 2007. Saya sangat penasaran dengan PCLinuxOS 2007 karena dia bisa nangkring di urutan kedua di distrowatch.com. FYI, urutan pertama dipegang oleh Ubuntu.

Saya berhasil menginstal PCLinuxOS 2007 beberapa hari yang lalu. Ketika saya menggunakannya, saya teringat kenangan manis saya dengan Mandrake. Wajar saja karena PCLinuxOS 2007 merupakan turunan dari Mandrake.

Ketika saya menggunakan PCLinuxOS 2007, saya merasakan bahwa dia lebih ringan dari Kubuntu 7.04 yang sekarang saya gunakan. Entah sebelah mananya yang bisa menyebabkan hal ini. Di beberapa sisi, PCLinuxOS 2007 lebih enak dari Ubuntu. Misalnya, secara default sudah support mp3 dan Synaptic menunjukkan url file yang harus kita download ketika kita akan menginstal suatu software. Ini tentu saja mempermudah orang-orang seperti saya yang tidak punya koneksi internet sehingga bisa mendownload file yang ditunjukkan url tersebut lalu menginstalnya secara manual.

Saat ini saya menggunakan Kubuntu 7.04 sebagai OS untuk mengerjakan semua tugas saya dan terkadang ke PCLinuxOS 2007 untuk mempelajarinya. Pada saat saya asyik mempelajari PCLinuxOS 2007, saya melihat bahwa beryl sudah terintegrasi di dalamnya. Iseng-iseng saya mencoba menggunakan beryl dan berikut ini snapshotnya.





Tiba-tiba, Vista jadi kuno ya ... :)

See U Soon.

Saturday, July 21, 2007

Definisi main game bagi istriku

Istriku termasuk wanita yang sering main game. Berbeda dengan aku yang mengharamkan cheat, istriku kalau main game besar (misalnya the Sims 2, Legend of Mana (PSX), Saga Frontier 2 (PSX), dan hampir semua game PSX lainnya) hampir selalu menggunakan cheat.

Alasan penggunaan cheat tentu saja agar dapat memudahkan kita dalam memainkan game tersebut. Entah untuk menamatkan ceritanya ataupun memanipulasi sebagian aspek dari game yang dicheat. Alasan yang selalu dikatakan istriku, "Kita kan main game untuk refreshing, kalau kalah kan jadi pusing. Berarti, kalau kita main game kalah, tujuan refreshing kita gagal. Nah, untuk menjamin agar tidak kalah, maka digunakan cheat". Saya pikir-pikir, ada benarnya juga perkataan istri saya tersebut :)

Ngomong-ngomong tentang game, ini snapshot dari Kubuntuku yang sedang menjalankan Final Fantasy Tactics via pSX (Play Station Emulator).

See U Soon.

Wednesday, June 27, 2007

Siapa sih orang di balik Ubuntu dan Kubuntu?

Setelah 2 bulan menikmati (K)Ubuntu, saya akhirnya tertarik untuk mengetahui siapa sih orang di balik (K)Ubuntu? Seperti kata pepatah, tak kenal maka tak sayang, maka sudah sewajarnya ketika saya sayang (K)Ubuntu maka saya harus lebih mengenalnya. Dan... inilah orang di balik (K)Ubuntu.

Mark Shuttleworth
Mark Shuttleworth, dialah orang di balik Ubuntu. Lelaki yang sekarang berusia 33 tahun ini berasal dari Afrika Selatan. Saya jadi paham kenapa Ubuntu bernama "Ubuntu" yang berasal dari bahasa Afrika. Mark Shuttleworth merupakan orang Afrika pertama yang berhasil ke luar angkasa. Beliau ke luar angkasa pada tahun 2002 dengan biaya sendiri dalam rangka "piknik ke luar angkasa" :) Gila... berapa tuh biayanya??? Beliau merupakan orang kedua yang ke luar angkasa dengan biaya sendiri. Mark Shuttleworth juga aktif sebagai developer Debian. Saya jadi paham (lagi) kenapa Ubuntu berbasiskan Debian, bukan yang lainnya.

Yang paling saya cari dari diri Mark Shuttleworth ini adalah apakah alasan Beliau membuat Ubuntu. Setelah saya baca sana, baca sini, lihat sana, lihat sini, (menurut pemahaman saya) alasan Mark Shuttleworth membuat Ubuntu adalah balas jasa.
Weiits... Kok bisa?
Ya bisalah.
Balas jasa karena semua yang Beliau miliki sekarang ini diawali dari Thawte Consulting (perusahaan yang Beliau dirikan di garasi dan dibeli VeriSign seharga $575m pada tahun 1999) yang menggunakan Linux. Jadi, secara langsung, jika tidak ada Linux, maka Mark Shuttleworth tidak akan menjadi Mark Shuttleworth seperti sekarang ini.

Nah, jika Mark Shuttleworth aja bisa ngaku kalau Beliau bisa jadi kayak sekarang ini karena Linux, bagaimana dengan Anda? Jangan-jangan Anda tetap begitu-begitu aja (ga ada perubahan) karena Anda menggunakan selain Linux? Benar begitu?

Lebih banyak tentang Mark Shuttleworth bisa dilihat di websitenya, wikipedia, wawancara di Financial Times, dan FAQs: Why and Whither for Ubuntu?.

Jonathan Riddell
Jonathan Riddell adalah orang di balik Kubuntu. Lelaki berusia 24 tahun ini berasal dari Skotlandia. Beliau merupakan developer KDE.

Alasan Beliau membuat Kubuntu pada awalnya karena Beliau bisa melihat bahwa proyek Ubuntu akan menjadi besar tapi sayang Ubuntu hanya akan menggunakan Gnome. Sebagai pengguna dan developer KDE, Beliau kecewa dengan keputusan ini. Bagaimana nanti nasib para pengguna KDE (contohnya saya ^-^) jika mereka ingin merasakan hebatnya Ubuntu? Beliau memposting kekecewaan ini di KDE developers blog. Gayungpun tersambut, pihak Ubuntu mengontaknya untuk membuat Ubuntu yang menggunakan KDE, bukan Gnome.

Hal lain tentang Jonathan Riddell masih susah dicari. Untuk lebih mengenalnya, silahkan Anda lihat di websitenya, diarynya, dan wawancara di Behind Ubuntu.

Saya berharap bahwa ada orang Indonesia yang bisa mempunyai peran seperti Mark Shuttleworth dan Jonathan Riddell di dunia Free Open Source Software. Amin.

See U soon.

Weeits... hampir lupa.
Ini snapshot Kubuntuku yang lagi bakar DVD dengan K3B.

See U soon (lagi ^-^)

Tuesday, June 19, 2007

Kenapa Harus Linux dan Ubuntu?

Ketika saya bertanya kepada diri sendiri, "kenapa sih harus pake Linux?". Inilah jawaban yang muncul dalam benak saya.

  1. Saya ingin pakai sistem operasi yang legal.
  2. Saya sudah merasa cukup ahli dalam bidang per"Windows"an untuk penggunaan sehari-hari. Apa salahnya belajar sistem operasi lain yang lebih menantang?
  3. Saya ingin ikut merasakan dari awal, sistem operasi yang nantinya akan menggantikan Windows. Jadi ketika nanti kebanyakan orang baru bertanya apa itu Linux, saya sudah cukup ahli dengan Linux untuk penggunaan sehari-hari.
  4. Saya ingin menggunakan sistem operasi yang mempersilahkan penggunanya untuk menelanjanginya :)

Kenapa harus (K)Ubuntu?
  1. Selama saya hidup, saya belum pernah melihat Linux yang betul-betul hebat dalam hal komitmen dan komunitas, kecuali Ubuntu.
  2. Saya pilih Kubuntu karena saya lebih suka KDE daripada Gnome.
  3. Setahu saya, hanya Ubuntulah yang punya jadwal harus mengeluarkan versi baru setiap 6 bulan sekali. Hal ini, tentu saja akan membuat Ubuntu menjadi Linux yang sangat cepat berkembang.

Berikut ini adalah snapshot dari Linux CentOS yang sudah kuinstall di komputerku. Linux CentOS ini kudapat dari InfoLinux bulan ini. FYI, sekarang di komputerku ada tiga OS (aka triple boot), yaitu Linux Kubuntu, Linux CentOS, dan Windows Xp sp2.
See U soon.

Friday, June 15, 2007

How to setup Canon PIXMA iP1600 and iP1700 on Ubuntu or Kubuntu 7.04 Feisty Fawn

Tutorial ini kubuat setelah aku berhasil menginstal iP1600 dan iP1700 di Kubuntu 7.04 Feisty Fawn. Tutorial ini hasil dari surfing sana surfing sini yang memakan waktu tidak sedikit. Tutorial kubuat dalam bahasa Inggris (yang ngawur ^_^) dengan harapan semakin banyak yang bisa menggunakannya. Amin ...

First, pardon me for my bad English.

A. Download the Driver
Download these files (libcnbj-2.6_0-1_i386.deb, bjfilter-2.6_1-1_i386.deb, and pstocanonbj_3.3-1_i386.deb) aka the ip1600 (or ip1700) driver from here. See this for the details.

B. Install the Driver
Double click the file to install the driver, by this order :
1. libcnbj-2.6_0-1_i386.deb
2. bjfilter-2.6_1-1_i386.deb
3. pstocanonbj_3.3-1_i386.deb

or, do these command in terminal from the directory you put the driver.
sudo dpkg -i libcnbj-2.6_0-1_i386.deb
sudo dpkg -i bjfilter-2.6_1-1_i386.deb
sudo dpkg -i pstocanonbj_3.3-1_i386.deb

C. Configure the Printer with CUPS
1. Open your browser n go to http://127.0.0.1:631 or http://localhost:631.
2. Connect printer to computer, turn it on, and click "Add Printer".
3. Fill the form (see the snapshot) and click "Continue".

4. Choose "Canon iP1700 USB #1 (Canon iP1700)" and click "Continue".

5. Choose "Canon iP2200 Ver.2.60 (en)" in "Model:" and click "Add Printer".

6. You'll be asked for User Name and Password. Type the User Name and Password when you install (K)Ubuntu and click "OK".

7. You'll see your Printer Option. Configure as you wish and then click "Printers".

8. You'll see Printers page. Click "Print Test Page" to see if your printer is working.

9. For iP1600, replace any "iP1700" in this page with "iP1600".

10. If everything is OK, say thanx to Takushi Miyoshi (t-miyoshi@mfour.med.kyoto-u.ac.jp) for making the drivers.

See U soon.

Wednesday, June 06, 2007

CD Kubuntu dan Ubuntu Requestku Sudah Sampai

CD Kubuntu dan Ubuntu requestku sampai tanggal 31 Mei. Kubuntu kurequest 7 Mei jam 01.00 dan Ubuntu kurequest 10 Mei jam 11.00. Kedua request itu kulakukan via S75 dengan Opera Mini Mod.

Ini foto komputerku plus CD Kubuntu dan Ubuntu.

See U Soon.

Friday, June 01, 2007

DVD Repository dan Iso Ubuntu plus Worm.Brontok-31

Ada apa dengan Kubuntuku dua minggu terakhir ini? Jawabannya, banyak. Banyak sekali yang terjadi dengan Kubuntuku dua minggu ini.

Seperti sudah saya katakan di beberapa minggu yang lalu, yang membikin saya kesal dengan Kubuntu adalah jumlah paket (program)nya yang sangat sedikit. Jumlah paket (program) yang sangat sedikit ini disebabkan karena media instalasi Kubuntu berupa CD bukan DVD. Kubuntu sendiri sebenarnya merupakan distro yang paketnya sangat-sangat lengkap. Tapi, paket-paket tersebut diletakkan di server (yang disebut dengan server repository) sehingga untuk mengambil (menginstall) paket, diperlukan koneksi internet.

Jadi, misalnya di Kubuntu Anda belum ada Firefox, Anda cukup mengetik sudo apt-get install firefox pada Konsole, maka Kubuntu akan mengambil paket Firefox di server repository dan langsung menginstallnya di Kubuntu Anda. Mudah bukan? Hal ini sangat mudah sekali tapi cukup menyakitkan bagi orang seperti saya yang notabene belum punya koneksi internet :(

Nah, suatu ketika saat saya surfing di warnet langganan saya, saya nyangkut ke DistribusiDvdReposUbuntu. Inti dari link tersebut adalah bahwa komunitas Ubuntu Linux Indonesia telah mengcopy semua paket yang tersedia di server repository Ubuntu dan membuatnya menjadi DVD Repository sehingga kita yang tidak mempunyai koneksi internet tetap bisa menikmati Ubuntu dengan sekomplit-komplitnya via DVD Repository tersebut :)

Karena tawaran ini begitu menggiurkan, langsung saja saya mencari daftar Distributor DVD Repository Ubuntu yang terdekat dengan saya di DistributorDvdReposUbuntu. Target ketemu, yang terdekat dengan saya adalah KSL UBL (Kelompok Studi Linux Universitas Budi Luhur). FYI, Universitas Budi Luhur terletak sekitar 4 km dari tempat tinggal saya. Tanpa menunggu lama, saya langsung mengirim email tentang maksud saya yang pingin punya DVD Repository Ubuntu Feisty skalian menanyakan harganya. Alhamdulillah, email cepat dibalas oleh Mas Kholid. Asyiknya, Mas Kholid menawarkan harga gratis jika yang saya copy adalah isonya. Wah, mata saya langsung berbinar-binar :) dan saya langsung setuju dengan gratisnya copy iso ini.

Setelah saling email, akhirnya didapat kesepakatan hari Selasa 22 Mei jam 20.30, saya dipersilahkan datang ke UBL untuk mengcopy iso DVD Repository Ubuntu Feisty tersebut. FYI, DVD Repository Ubuntu Feisty tersebut terdiri dari 4 keping DVD. Dengan asumsi 1 DVD = 4 GB, berarti saya harus punya space kosong sebanyak 16 GB. Karena Harddisk saya penuh, jadilah saya membuang hal-hal yang tidak begitu berguna di harddisk saya.

Selasa 22 Mei jam 20.15, saya akhirnya ke UBL. Di UBL saya bertemu dengan teman-teman KSL UBL. Mumpung ada kesempatan, saya bertanya banyak hal tentang Linux kepada mereka. Maklum saya masih amatir :) Berita gembira dari semua ini adalah saya ga jadi copy iso tapi malah diberi 4 keping DVD Repository Ubuntu Feisty secara cuma-cuma :) Ini semua kayaknya akibat saya bercerita ke Mas Kholid bahwa saya adalah seorang guru dari sekolah gratis untuk muslimah dhuafa. Buat KSL UBL, terima kasih banyak ya untuk semuanya ...

Pulang dari UBL, saya dah pingin cepet-cepet nyoba Kubuntu dengan seutuhnya. Tapi apa daya, Kubuntuku masih versi 6.06 (Dapper) sedangkan DVD Repository Ubuntu itu untuk versi 7.04 (Feisty). Saya sudah pesan Kubuntu 7.04 sih, tapi perkiraan sampainya masih 2 mingguan lagi. Duh, saya dah ga tahan untuk nyoba Kubuntu dengan seutuhnya.

Rabu pagi jam 09.30, (seperti biasa) saya ke warnet langganan saya dengan maksud mau mendownload iso Ubuntu dari ftp://tuma.vlsm.org/Ubuntu/Feisty/. Saya memilih mendownload dari tuma.vlsm.org karena servernya terletak di Indonesia sehingga proses download menjadi lebih cepat. Oh ya, saya tahu tentang tuma.vlsm.org dari kambing.vlsm.org.

Dari link beberapa iso Ubuntu yang tersedia, saya memilih mendownload ubuntu-7.04-desktop-i386.iso. Seperti biasa, saya mendownloadnya dengan FDM Portable. Pada saat mendownload iso Ubuntu tersebut, rata-rata kecepatan download adalah 30kb/s. Ukuran ubuntu-7.04-desktop-i386.iso adalah 697,9 MB. Menurut FDM Portable, saya membutuhkan waktu sekitar 10 jam untuk menyelesaikan proses download ubuntu-7.04-desktop-i386.iso. Padahal, di warnet tersebut saya hanya bisa pakai internet selama 3 jam karena saya pakai paket 3 jam. Waduh, masak saya harus stand by di warnet sampai 10 jam? Ya kalau downloadnya selesai, kalau tidak? Tentu saja yang terjadi adalah tekor :)

Setelah hampir 3 jam surfing sana surfing sini sambil nunggu proses download ubuntu-7.04-desktop-i386.iso, ternyata file yang terdownload baru sekitar 130 MB dari 697,9 MB. Nah, pada saat saya mau pulang ini saya punya ide cemerlang :) Kenapa proses download tidak saya lanjutkan saja meski saya sudah tidak pakai internet di warnet tersebut :))) Akhirnya ide ini saya jalankan. FDM Portable saya setting untuk menutup dirinya sendiri saat download komplit dan tray icon saya sembunyikan meski proses download tetap jalan. Dan, jadilah saya pulang dengan harap-harap cemas, semoga tidak ada yang merestart komputer yang saya pakai tersebut.

Saya berencana untuk menengok downloadan saya tersebut hari Sabtu. Tapi saya rasa ini terlalu lama, jangan-jangan nanti ada yang delete file itu lagi. Hari Jum'at, saya ga bisa ke warnet karena harus masuk kerja. Akhirnya hari Kamis sekitar jam 19.30 (habis pulang kerja) saya memutuskan untuk ke warnet demi menengok downloadan saya. Oh ya, hari Kamis ini adalah hari yang berat karena saya masuk jam 08.20 dan baru bisa pulang jam 18.30 karena ada rapat. Gila, di sekolah berapa jam tuh saya?

Nah, berita gembira. Ternyata ubuntu-7.04-desktop-i386.iso yang saya download hari Rabu (satu hari sebelumnya) sudah selesai. Di filenya tertulis kalau download selesai hari Rabu jam 18.38 (download mulai di hari yang sama jam 09.40). He.. he.. he.., saya curang ya? OK, akhirnya ubuntu-7.04-desktop-i386.iso saya copy ke flash disk lalu saya bakar ke DVD+RW dengan K3b. Dan, seperti dugaan Anda, malamnya dari jam 21.00 sampai esok hari jam 03.00 saya ngoprek Ubuntu 7.04.

Pada saat saya ngambil ubuntu-7.04-desktop-i386.iso di warnet, saya lihat banyak file-file .exe yang bukan milik saya tiba-tiba ada di flash disk saya. Saya sudah nebak, ini pasti virus. Dan ternyata benar, file-file .exe asing tersebut adalah Worm.Brontok-31 menurut ClamWin. Kalau Anda mau Worm.Brontok-31 tersebut, silahkan download di sini :) Jangan kuatir, Worm.Brontok-31 tersebut sudah saya zip dan saya ubah ekstensinya menjadi .txt, sehingga tidak akan menular ke komputer Anda kecuali Anda ubah ekstensinya menjadi zip dan Anda ekstrak filenya.

Ini adalah snapshots Kubuntu 7.04 ku

Kubuntu dengan FluxBox (simbahnya bbLean ^-^)

Kubuntu dengan Gnome alias Ubuntu :)

Kubuntu dengan KDE plus SuperKaramba. Anda pasti ingin punya Kubuntu seperti ini kan?

See U soon.

Blogger template 'Fundamental' by Ourblogtemplates.com 2008.

Jump to TOP

Blogger templates by OurBlogTemplates.com